Tampilkan postingan dengan label Farmakologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmakologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

Obat Analgesik-Antipiretik - Codein (Kodein)

Komposisi:
Tiap tablet Codein 10 mg mengandung: Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan Kodein 10 mg

Tiap tablet Codein 15 mg mengandung: Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan Kodein 15 mg

Tiap tablet Codein 20 mg mengandung: Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan Kodein 20 mg

Farmakologi:
Kodein merupakan analgesik agonis opioid. Efek kodein terjadi apabila kodein berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan saraf pusat. Efek analgesik kodein tergantung afinitas kodein terhadap reseptor opioid tersebut.Kodein dapat meningkatkan ambang rasa nyeri dan mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima dari thalamus.Kodein juga merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan menekan pusat batuk.

Indikasi:
-       Antitusif
-       Analgetik

Kontraindikasi:
Asma bronkial, emfisema paru-paru, trauma kepala, tekanan intrakranial yang meninggi, alkoholisme akut, setelah operasi saluran empedu.

Dosis:
Sebagai analgesik:
-       Dewasa               : 30 - 60 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan.
-       Anak-anak          : 0,5 mg/kg BB, 4-6 kali sehari

Sebagai antitusif :
-       Dewasa               : 10-20 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan, maks. 60 mg perhari.
-       Anak6-12tahun  : 5-10 mg, tiap 4 - 6 jam, maksimum 60 mg perhari.
-       Anak 2-6 tahun  :1 mg/kg BB perhari dalam dosis terbagi, maksimum 30 mg perhari.

Sebagai antitusif tidak dianjurkan untuk anak di bawah 2 tahun.  

Efek Samping:
-       Dapat menimbulkan ketergantungan.
-       Mual, muntah, idiosinkrasi, pusing, sembelit.
-       Depresi pernafasan terutama pada penderita asma, depresi jantung dan syok.

Peringatan dan Perhatian:
-       Hati-hati penggunaan pada pasien dengan infark miokardial dan penderita asma.
-       Hindari minuman beralkohol.
-       Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan karena dapat menyebabkan kerusakan fungsi hati.
-       Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.
-       Hati-hati pada pemberian jangka panjang

Interaksi Obat:
-       Hendaknya hati-hati dan dosis dikurangi, apabila digunakan bersama-sama dengan obat-obat depresan lain, anestetik, tranquilizer, sedatif, hipnotik dan alkohol.
-       Tranquilizer terutama fenotiazin bekerja antagonis terhadap analgesik opiat agonis.
-       Dekstroamfetamin dapat menghambat efek analgesik opiat agonis.
-       Jangan diberikan bersama-sama dengan penghambat MAO dan dalam jangka waktu 14 hari setelah pemberian penghambat MAO.
 
 
sumber : http://publichealthnote.blogspot.com/search/label/Analgesik-Antipiretik%20%28Nyeri-Demam%29

Minggu, 27 Oktober 2013

Antasida


NAMA GENERIK
Antasida

NAMA KIMIA
(a) Aluminium Hydroxide; (b) Magnesia magma, milk of magnesia (MOM), magnesium hydroxide; (c) Magnesii trisilicas; (d) Magnesii subcarbonas; (e) Aluminum magnesium hydroxide sulfate; (f) Calcii carbonas;

STRUKTUR KIMIA
Al(OH);Mg(OH)2;(Al 5Mg10(OH)31(SO4)2,xH2O;(CaCO3 );

SIFAT FISIKOKIMIA
(a) Gel aluminium hidroksida (USP 29) : suspensi aluminium hidroksida amorf dimana terdapat substitusi sebagian karbonat untuk hidroksida. ;Berupa suspensi kental berwarna putih dari sejumlah kecil cairan jernih yang terpisah selama pendiaman, mempunyai pH antara 5,5 dan 8,0. ;Simpan dalam wadah tertutup rapat dan hindari pembekuan. ;Gel kering aluminium hidroksida (USP 29):bentuk amorf dari aluminium hidroksida dimana terdapat substitusi sebagian karbonat untuk hidroksida. ;Mengandung ekivalen dengan tidak kurang dari 76,5 % Al(OH)3 dan dapat mengandung aluminium karbonat dan bicarbonat basa dalam jumlah yang bervariasi.;1 g gel kering aluminium hidroksida ekivalen dengan 765 mg Al(OH). ;Merupakan serbuk amorf yang tidak berasa, tidak berbau, berwarna putih, tidak larut dalam air dan alkohol, larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidrosida. ;Dispersi 4% dalam air mempunyai pH tidak lebih dari 10,0. simpan dalan wadah tertutup rapat;(b) USP 29 : serbuk putih meruah, praktis tidak larut dalam air, alkohol, kloroform, dan eter. Larut dalam asam-asam encer, simpan dalam wadah tertutup rapat,;(c) USP 29 : suatu senyawa dari magnesium oksida dan silikon dioksida dengan proporsi air yang bervariasi.Mengandung tidak kurang dari 20% magnesium oksida dan tidak kurang dari 45% silikon dioksida.;Berupa serbuk halus berwarna putih, bebas dari partikel.;(d) Tidak larut dalam air dan alkohol, segera terurai oleh asam mineral;(e) Mengandung ekivalen dengan 40,0%-43,5 % MgO. Berupa serbuk berwarna putih meruah, tidak berbau, atau massa rapuh berwarna putih yang ringan.;Praktis tidak larut dalam air dan alkohol. Larut dalam asam encer dan effervescent.;(f) USP 29 : merupakan kombinasi aluminium magnesium hidroksida dan sulfat, mengandung ekivalen dengan 90%-105% Al5Mg10(OH)31(SO4)2,xH2O, dihitung berdasarkan basis kering. ;Berupa serbuk kristalin berwarna putih, tidak berbau, tidak larut dalam air dan alkohol, larut dalam larutan encer asam mineral, kehilangan 10%-20% dari beratnya bila dikeringkan pada suhu 200�C selama 4 jam.;(g) USP 29 : serbuk mikrokristalin, berwarna putih halus, tidak berbau, praktis tidak larut dalam air, tidak larut dalam alkohol. ;Kelarutannya dalam air ditingkatkan dengan adanya karbondioksida atau garam-garam amonium meskipun keberadaan alkali hidroksida mengurangi kelarutannya

SUB KELAS TERAPI
Obat Untuk Saluran Cerna

FARMAKOLOGI
(a);(b) Mula kerja obat:laksatif:4-8 jam. Sekitar 30% ion magnesium diserap oleh usus halus. Ekskresi:urin (sampai dengan 30% sebagai ion-ion magnesium yang terabsorpsi); feses (obat yang tidak diabsorpsi). (1,3);(c) Bila diberikan secara oral bereaksi lebih lambat dengan HCL di lambung dari pada magnesium hidroksida.1Bila diberikan secara oral bereaksi lebih lambat dengan HCL di lambung dari pada magnesium hidroksida. (1);(d) Pada pemberian per oral bereaksi dengan asam lambung membentuk magnesium klorida yang larut dan karbondioksida. Karbon dioksida dapat menyebabkan kembung dan eruktasi/bersendawa. (1);(e);(f) Kalsium karbonat diubah menjadi kalsium klorida oleh asam lambung. Kalsium karbonat juga mengikat fosfat dalam saluran cerna untuk membentuk komplek yang tidak larut dan mengurangi absorpsi fosfat.;Beberapa dari kalsium diabsorpsi dari usus dan bagian yang tidak terabsorpsi diekskresikan melalui feses. (1)

KONTRA INDIKASI
(a) Hipersensitivitas terhadap garam aluminum atau bahan-bahan lain dalam formulasi.;(b) Hipersensitivitas terhadap bahan-bahan dalam formulasi, pasien dengan kolostomi atau ileostomi, obstruksi usus, fecal impaction, gagal ginjal, apendisitis.;(f) Pada pasien yang harus mengontrol asupan sodium (seperti:gagal jantung, hipertensi, gagal ginjal, sirosis, atau kehamilan). (1)

EFEK SAMPING
(a) Gastrointestinal:konstipasi, kram lambung, fecal impaction, mual, muntah, perubahan warna feses (bintik-bintik putih). Endokrin dan metabolisme:hipofosfatemia, hipomagnesemia. (3);(b) Kardiovaskuler:hipotensi. Endokrin dan metabolisme:hipermagnesemia. Gastrointestinal:diare, kram perut. Neuromuskuler dan skeletal:kelemahan otot. Pernapasan:depresi pernapasan (3);(f) Kadang-kadang menyebabkan konstipasi, kembung akibat pelepasan karbondioksida pada beberapa pasien. Dosis tinggi dan penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan hipersekresi lambung dan kembalinya asam (acid rebound). ;Kalsium karbonat dapat menyebabkan hiperkalsemia, khususnya pada pasien dengan gangguan ginjal atau pada pemberian dengan dosis tinggi. Alkalosis dapat juga terjadi akibat absorpsi ion karbonat (1);Efek samping lain (1-10% paisne) : bengkak, CHF, hipertensi, takikardi, aritmia, hypotensi, miocardial infark, demam, infeksi,sepsis, perubahan berat badan, asma, sindrom seperti flu,hipergikemi, hipoglikemi, pneumonia, depresi pernafasan.

INTERAKSI OBAT
(a) Aluminium hidroksida dapat mengurangi absorpsi allopurinol, efek antibiotik (tetrasiklin, kuinolon, beberapa sefalosporin), turunan bifosfonat,kortikosteroid, siklosporin, garam-garam besi, antifungi imidazol, ;isoniazid, penisilamin, suplemen fosfat, fenitoin, fenotiazin. Absorbsi aluminium hidroksida dapat dikurangi oleh turunan asam sitrat.;(b) Menurunkan absorpsi tetrasiklin, digoksin, garam-garam besi, isoniazid, atau kuinolon.;(f) Kalsium karbonat berinteraksi dengan banyak obat karena mengubah pH asam lambung dan pengosongan lambung dengan pembentukan kompleks yang tidak diabsorpsi. ;Interaksi dapat diminimalisasi melalui pemberian terpisah kalsium karbonat dari obat lainnya selama 2-3 jam

PENGARUH ANAK
Dosis magnesium-aluminium hidroksida 0,5 ml/kg direkomendasikan untuk infant dengan refluks. Berdasarkan monitoring pH intragastrik serial, hasil terbaik diperoleh bila antasida diberikan sebelum dan sesudah asupan formula

PENGARUH HASIL LAB
(a) Mengurangi kadar fosfat anorganik.;(b) Meningkatkan magnesium; menurunkan protein, kalsium; menurunkan kalium

PENGARUH KEHAMILAN
(a) Kategori C. Tidak ada data yang tersedia mengenai efek klinis pada fetus; bukti yang ada saat ini menyatakan aman digunakan selama kehamilan dan menyusui.;(b) Kategori B

PENGARUH MENYUSUI
Tidak diketahui.

PARAMETER MONITORING
Efek terapetik:heartburn:perbaikan gejala-gejala berikut:disfagia, odinofagia, batuk, sakit kerongkongan, nyeri dada nonkardiak, regurgitasi, mual, nafsu makan menurun, indigesti, bersendawa. ;Efek toksik:konstipasi (terutama akibat garam-garam aluminium dan kalsium) atau diare (terutama akibat garam-garam magnesium); ;kadar aluminium, kalsium, dan magnesium pada pasien dengan gangguan ginjal berat; sesuai kebutuhan, elektrolit dalam urin, darah dan pH untuk menunjukkan kemungkinan alkalosis

BENTUK SEDIAAN
Kaplet 200 mg, Tablet 200 mg, 250 mg, 300 mg, 325 mg, 400 mg;Tablet Kunyah 250 mg, 300 mg, 400 mg, 500 mg;Suspensi 200 mg/5 ml, 250 mg/5 ml, 300 mg/5 ml, 325 mg/5 ml, 400 mg/5 ml. (2)

PERINGATAN
(a) Hiperfosfatemia dapat terjadi pada pengunaan jangka lama atau dosis besar; intoksikasi aluminium dan osteomalasia dapat terjadi pada pasien dengan uremia. Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gagal jantung kongesti, gagal ginjal, edema, sirosi;diet rendah natrium, serta pada pasien yang baru saja mengalami perdarahan saluran cerna. Pasien uremia yang tidak menerima dialisis dapat mengalami osteomalasia dan osteoporosis akibat deplesi fosfat.;(b) Hati-hati digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal berat (khususnya bila dosis>50 mEq magnesium/hari). Hipermagnesemia dan toksisitas dapat terjadi akibat penurunan klirens ginjal dari magnesium yang diabsorpsi. Penurunan fungsi ginjal;(Clcr<30 ml/menit) dapat menyebabkan toksisitas

INFORMASI PASIEN
(a) Sebaiknya diminum 1-3 jam setelah makan bila digunakan sebagai antasida. Bila digunakan untuk menurunkan kadar fosfat, sebaiknya diminum dalam 20 menit dari saat makan. Setelah minum obat harus diikuti minum air.3 Bentuk sediaan tablet seharusnya;dikunyah seluruhnya untuk mencapai efektivitas optimal, namun bentuk sediaan cair/suspensi dipilih terutama untuk ulcer duodenum.;(b)(c)(d)(e)(f)Bentuk sediaan tablet seharusnya dikunyah seluruhnya untuk mencapai efektivitas optimal, namun bentuk sediaan cair/suspensi dipilih terutama untuk ulcer duodenum

MEKANISME AKSI
(a) Menetralkan HCl dalam lambung dengan membentuk garam Al(Cl)3 dan H2O;(b) Magnesium hidroksida per oral bereaksi relatif cepat dengan HCl dalam lambung membentuk magnesium klorida dan air. Magnesium hidroksida juga mengosongkan usus dengan menyebabkan retensi osmotik cairan yang mengembangkan kolon;dengan aktivitas peristaltik yang meningkat.;(c) Bila diberikan secara oral bereaksi lebih lambat dengan HCl di lambung dari pada magnesium hidroksida;(d) Pada pemberian per oral bereaksi dengan asam lambung membentuk magnesium klorida yang larut dan karbondioksida

MONITORING
Cara penggunaan obat, efek terapetik dan efek samping obat.


Senin, 14 Oktober 2013

Obat Anti Asma


ANTI ASMA


BAB I
PENDAHULUAN

    Latar Belakang
Asma merupakan suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Ini terjadi karena saluran nafas tersebut sangat sensitive terhadap faktor khusus yang menyebabkan jalan udara menyempit sehingga aliran udara berkurang dan mengakibatkan sesak nafas.
Penyakit ini dapat menurunkan produktivitas kerja dan di RSUD “45” Kuningan.  Pasien pengidap asma jumlahnya sangat banyak, terutama pasien rawat jalan yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat. Karena tingkat insiden yang tinggi, maka penyusun ingin mendalami obat-obat asma yang digunakan di RSUD “45” Kuningan
    Tujuan
    Guna memenuhi Nilai tugas Laporan khusus RSUD “45” Kuningan
    Penyusun dapat Menambah Ilmu Pengetahuan tentang Asma dan obat-obat lainnya
    Dapat dijadikan sumber Ilmu begi yang memerlukan referensi

 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

    Pengertian
Asma merupakan suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Ini terjadi karena saluran nafas tersebut sangat sensitive terhadap factor khusus yang menyebabkan jalan udara menyempit sehingga aliran udara berkurang dan mengakibatkan sesak nafas.
    Jenis – Jenis Asma
    Golongan Xantin
    Golongan Adregenik Selektif Beta -2
    Golongan Kortikosteroid
    Golongan Simpatomimetik
    Obat – Obat Asma
    Aminophilline
    Dexamethasone
    Efedrin Hcl
    Salbutamol
    Theophilline
    Terbutaline
 
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

    GOLONGAN XANTIN :
    Aminophylline
Nama Obat        : Aminophylline
Mekanisme Kerja    : Aminophyline bekerja sebagai antispasmodic, bronchodilator. Aminophyline di dalam lambung akan terhidrolisa menjadi teofilin, efek bronchodilator diperlihatkan dengan merelisasi otot bronchial
Dosis             :
Dewasa    100 – 200 mg, sehari 3 kali
Anak-anak
12-16 tahun    18 mg/kg berat badan perhari, dalam dosis bagi, sehari tidak melebihi 400 mg atau menurut petunjuk dokter
   
    Dosis Lazim untuk anak dan Bayi    :
Dosis Lazim
Sekali    Sehari
5 mg/kg     -

Dosis Lazim dan dosis Maksimum untuk dewasa    :
Dosis Lazim    Dosis Maksimum
Sekali    Sehari    Sekali    Sehari
100 mg – 200 mg    300 mg – 600 mg    500 mg    1,5 g
   
    Efek samping        :
    Iritasi saluran gastrointestinal, sakit kepala, mual, muntah dan gugup
    Insomnia, palpitasi, tachycardia, aritmia verticuler tachypnea

  Theophyllin

Nama Obat            : Theophylline
Mekanisme Kerja    : Theophylline merupakan turunan metilxantin yang mempunyai efek anatara lain merangsang susunan syaraf pusat dan melemaskan otot polos, terutama bronkus
Dosis         :
Dewasa    3 kali sehari 1 kapsul/15 ml
Anak-anak               3 kali sehari 7,5 ml
Dosis Lazim Untuk Anak dan Bayi        :
Dosis Lazim
Sekali    Sehari
5 mg/kg    -

Dosis Lazim dan Dosis Maksimum untuk Dewasa    :
Dosis Lazim    Dosis Maksimum
Sekali    Sehari    Sekali    Sehari
200 mg    500 mg    500 mg    1 g

Efek Samping    :
    Susunan syaraf pusat, seperti : sakit kepala, insomnia
    Kardiovaskuler, seperti : palpitasi, takikardi, aritmia ventrikuler
    Pernafasan, seperti : tachypnea
    Rash, hiperglikime
    Gastrointestinal, seperti : mual, muntah, diare

    Efedrin Hcl
Nama Obat         : Efedrin Hcl
Mekanisme  Kerja    : Efedrin Hcl bekerja mempengaruhi system syaraf adregenik secara langsung maupun tidak langsung
Dosis    :
Dewasa    3-4 kali sehari 1 tablet
Anak-anak    2 kali sehari ½-1 tablet

Dosis Lazim Dan Maksimum untuk Dewasa :
Nama Obat    Dosis Lazim    Dosis Maksimum
Efedrin Hcl    Sekali    Sehari    Sekali    Sehari
    10 mg – 30 mg
10 mg    30 mg – 100 mg
20 mg    50 mg
40 mg    150 mg
120 mg

    GOLONGAN ADREGENIK SELEKTIF BETA - 2
    Salbutamol
Nama Obat        : Salbutamol
Mekanisme kerja    :. Salbutamol merupakan suatu senyawa yang selektif merangsang reseptor β2 adregenik terutama pada otot bronkus. Golongan β2 agonis merangsang produksi AMP siklik dengan cara mengaktifkan kerja enzim adenil siklase. Efek utama setelah pemberian per oral adalah efek bronku-dilatasi yang disebabkan terjadinya relaksasi otot bronkus. Dibandingkan dengan isoprenalin, salbutamol bekerja lebih lama dan lebih aman Karena efek stimulasi pada jantung lebih kecil, maka bias digunakan pada pengobatan kejang bronkus pada pasien dengan penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

           Dosis               :
    Tablet             :
Dewasa    Anak – Anak
>12 tahun :
2-4 mg, 3–4 kali sehari
Dosis dapat dinaikkan secara berangsur-angsur.    2–6 tahun :
1–2 mg, 3–4 kali sehari
6-12 tahun :
2 mg, 3-4 kali sehari
 Sirup            :
Dewasa    Anak – Anak
>12 tahun :
1-2 sendok (5-10 ml), 3-4 kali sehari    2-6 tahun:
1/2 -1 sendok (0,25-5 ml ), 3-4 kali sehari
6-12 tahun :
1 sendok (5ml), 3-4 kali sehari

Efek Samping     : Pada dosis yang dianjurkan tidak di temukan adanya efek samping yang serius pada pemakaian dosis besar dapat menyebabkan tremor halus pada otot skelet, palpitasi, kejang otot, takikardia, ketegangan dan sakit kepala. Efek ini terjadi pada semua perangsang adreno reseptor beta. Vasodilatasi perifer, gugup, hiperaktif, epitaxis (mimisan), cepat marah, susah tidur

    GOLONGAN KORTIKOSTEROID
    Deksamethasone
 Deksamethasone adalah glukokortikoid sintetik dengan aktivitas imonusupresan dan anti-inflamasi
Nama     Obat        : Deksamethasone
Mekanisme Kerja    : Sebagai imunosupresan deksametason bekerja dengan menurunkan respon imun tubuh terhadap stimulasi rangsang. Aktivitas anti-inflamasi deksamethasone dengan jalan menekan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi dan menghambat akumulasi sel yang mengalami inflamsi, termasuk makrofag, dan leukosit pada tempat innflamsi
Dosis            :
Dewasa    Dosis awal bervariasi : 0,75 – 9 mg sehari tergantung pada berat ringanya penyakit.
Pada penyakit ringan : dosis dibawah 0,75 mg sehari
Pada penyakit berat   : dosis diatas 9mg  sehari
Anak-anak           < 1 tahun : 0,1 – 0,25 mg                                  
1j   1-5 tahun  : 0,25 – 1 mg sehari
Cz 6-12 tahun : 0,25 – 2 mg sehari
Efek Samping    : Efek samping terapi jangka pendek tidak ada. Penggunaan deksamethasone jangka panjang dapat mengakibatkan kelemahan otot, mudah terkena infeksi, gangguan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit, kelainan mata, gangguan system endokrin, gangguan salyran pencernaan, sakit kepala atau atropi kulit

    GOLONGAN SIMPATOMIMETIK
    Terbutalin
Nama Obat         : Terbutalin
Mekanisme Kerja    : Simpatomimetik
Dosis            :
Dewasa    Anak – Anak
Dewasa dan anak >15 tahun :
1-2 tablet, 2-3 kali sehari    Anak 7-15 tahun :
1 tablet, 2 kali sehari

Efek Samping     : berupa gelisah, sakit kepala, ngantuk, tremor, palpitasi, berkeringat serta mual dan muntah dapat pula timbul takikardia dan kejang otot


DAFTAR PUSTAKA
 
    Farmakope Indonesia. Edisi III tahun 1978. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Halaman 920 - 994
    Informasi Spesialit Obat. Volume 45 tahun 2010-2011. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Halaman 491 - 501
    Farmakologi : cetakan ke lima kelas X. Jakarta 2010 : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Halaman 35-36