Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Kalam Hikmah

Dalam suatu kesempatan Sayyidina Ali R.A. pernah berfatwa,

"Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas iman. Iman hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu' namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat, rendah hati bagai sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis tapi kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ada pelacur tampil jadi figur.

Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham tapi tidak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tak tahu diri.

Ada orang beragama tapi tidak berakhlak, ada yang berakhlak
tapi tidak bertuhan.

Lalu diantara semua itu dimana aku berada....?"


Obrolan Plus dan Minus

-"Janganlah MENYEMBAH kuburan!"
+"Setahu saya, hanya mereka yang nalarnya bersumbu pendek yang selalu menilai negatif-justifikatif orang lain!"

-"Tak perlu merayakan mawlidurrasul, karena akan MENGKULTUSKAN beliau!"
+"Pobhia-mu terhadap sesuatu, kawan, tak perlu kau paksakan pada orang lain!"

-"Merayakan ma
ulid? Tak usah! Apa kalian akan menuhankan Muhammad sebagaimana Nasrani menuhankan Isa?"
+"Seberapa hebatnya dirimu, sehingga kau remehkan akal jernih kami dalam mencintai Baginda Rasulullah?"

-"Ah, dasar kelompok yang MEMPERTUHANKAN KIAI!"
+"Baiklah, maaf, saya malah curiga panjenengan mempertuhankan AGAMA, bukan mempertuhankan Allah!"

-"Bayi yang baru lahir tak perlu diadzani dan diiqamati. Hadisnya Dhoif, bahkan ada yang menilai Mawdlu'!"
+"Wahai ibunda, lebih baik mana; kalimat mulia nan syahdu atau ocehanmu yang pertama kali didengar telinga buah hatimu?!"

-"Itu tidak ada dalilnya. Bid'ah Dholalah!"
+ "Sudah berapa ribu kitab yang kau baca, sahabatku! Berapa ratus ulama yang kau cucup ilmunya? Bukankah lebih bijak tatkala kau katakan BELUM MENEMUKAN DALIL-nya!"

-"Tashawwuf, sufi, thariqah dan semacamnya itu bikin umat Islam pemalas. Jumud. Akhirnya gampang dijajah kaum kafir! Paham?"
+"Saya memahami ucapanmu, sahabatku. Tapi tidak memahami LOGIKA-mu. Sebutkan saja jumlah perlawanan terhadap kolonialisme yang dilakukan pengamal tarekat di berbagai negara dalam puluhan kurun. Tolong, sebutkan, sebutkan 5 saja! Masih berkilah, sebutkan minimal 50 nama muhadditsin dan fuqaha' yang merupakan sufi-sufi besar! Saya kira cukup sebagai panduan narasi historismu yang tendensius-justifikatif. Saya tidak menuduh panjenengan dungu, tapi saya kira panjenengan bisa memahami ucapan saya."

-"Kita harus kembali ke al-Qur'an dan Assunnah!"
+ "Kembali?! Kami bahkan tidak pernah MENINGGALKANNYA, mengapa harus KEMBALI?!

-"Ikuti Manhaj Salaf!"
+"Selama ini pegangan kami, guru-guru kami, juga karya para ulama Salaf! Sanad guru-guru kami juga terkoneksi secara valid dengan ulama penulisnya. Mengapa harus menjadi makmum madzhab Salaf versimu?!"

-"Laknat Allah bagi pelaku bid'ah seperti kalian!"
+ "Kami, ya, kami, maaf, selalu me-WASPADA-i siapapun yang mengaku memperjuangkan KEBENARAN, tetapi mulutnya menyemburkan kalimat laknat, caci-maki, dan kutukan terhadap saudara seiman!"

Setelah membaca dialog di atas, bagi panjenengan yang mau menanam bibit nasehat menggunakan kalimat normatif, seperti
"Mengapa perkara seperti ini dipersoalkan?!"
"Kapan umat bersatu jika terus seperti ini?"
"Ya Akhy, istighfar!"
"MasyaAllah, bukankah kita saudara seiman?!"
"Bertaubatlah ya akhy!"
.......dan nasehat lainnya, saya sarankan, agar menyimpan kalimat tersebut di brankas, karena saat ini saya hanya butuh suplai eskrim Magnum. Sesederhana itu, kawan!
--
Wallahu A'lam Bisshawab...



Menghilangkan Aku Menghadirkan Tuhan

Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.
Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?
Adalah Muhammad Bagir MA, dosen filsafat dan tasawuf pada Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, yang menjadi salah satu garda depan, dari pihak yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio). Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan), akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness : hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia. Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai. Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan dosen kelahiran Singapuradan lulusan Universitas Qum Teheran tersebut.

Menurut Mas Bagir, bagaimana tasawuf bisa menjelaskan, bahwa ketika berada di jalan Tuhan, maka kita bisa menyelesaikan masalah dunia (kemanusiaan)?
Kita lihat dalam Kristen dulu ya. Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam kan teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak “mendaging” dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan).
Apa kaitannya dengan individualisme?
Semua suffering, masalah dunia di hidup kita kan karena individualitas kita. Karena kita mengakui “aku”, dalam Buddhism kan gitu juga. Kalau aku-nya hilang, ya nggak akan ada masalah. Misalnya kalau kita bawa dalam preposisi: ada subjek ada predikat. Predikat bisa gembira, sedih, aku sedih, aku gembira, aku stress. Coba kalau subjek (aku)-nya hilang, nggak ada apa-apa lagi kan? Kita boleh saja sedih, sakit, tetapi karena “aku” tak ada, maka tak ada yang merasakan segala kesakitan itu.

Nah disini bedanya ilmu akhlak dan metafisik. Misalnya, akhlak takabur. Dalam ilmu akhlak dijelaskan, definisi takabur itu apa, efek yang akan merusak jiwa kita gimana? Jadi kita harus gantikan pada predikat yang positif. Disini ilmu akhlak lebih konsentrasi pada predikat. Tapi selagi ada subjek, tetap ada predikat kan? Sementara irfan dan tasawuf konsentrasi pada subjek. Hilangkan subjek dong. Ketika subjek hilang, Subjek dengan “S” besar muncul. Aku (Ana) yang besar, maka predikat-predikatnya muncul kan, Asmaul husna. Itu namanya tajalli. Dengan cara itu manusia selamat dari segala kesengsaraan dalam kehidupan individualisnya.

Bagaimana cara untuk menghilangkan “aku”?
Harus ada ilmu. Ilmu yang selama ini kita pelajari ada dua macam. Ada accumulatif knowledge, ada yang annihilatif knowledge. Accumulatif itu kan akumulasi. Kita semakin banyak mencari ilmu. Ketika terjadi akumulasi, maka harus ada subjek, dan subjek ini mengakumulasi knowledge. Aku ‘alim, aku mengetahui, aku lebih pintar. Tetapi annihilation, nihilasi (fana’), ilmu yang menghilangkan subjek. Misalnya, laa ilaahaillallah, tiada Tuhan selain Allah. Kenapa? Karena Dia mutlak. Sesuatu yang mutlak, jelas tidak terbatas. Sesuatu yang tidak terbatas, tidak mengizinkan dua realitas. Ketika dia terbatas, pasti ada yang lain. Jadi konsep tauhid juga berkata seperti itu. Tidak ada realitas, selain Dia menghilang semuanya. Kalau hilang subjek ya sudah. Kita akan melihat seluruh alam ini dengan kaca mata Dia, bukan kaca mata individualis lagi. Jadi kalau ada masalah, kita kan sering lari darinya, dan masuk masalah lain. Yang harus kita lakukan seharusnya beyond, melampaui. Apa yang bisa bawa kita keluar dari masalah.

Karena masyarakat modern kan, kalau ingin menyelesaikan masalah ekonomi ya dengan ekonomi, politik dengan politik, dsb. Nah kalau pendekatan spiritual, misalnya kalau kita menghadapi masalah politik, yang kita lakukan adalah “penghancuran kedalam” ya?
Ya, karena kalau sudah hancur aku-nya, yang muncul kan tajalli-nya Allah. Contoh, Banyak teman-teman yang tanya sama saya, “Saya takut mau suluk”. Kenapa? “Kalau saya suluk, mungkin saya akan tinggalkan dunia ini”. Seorang istri akan bimbang kalau suaminya tinggalkan dia, tidak perdulikan nafkah, anak-anak.

Seolah-olah Tuhan itu di barat, dan dunia di timur ya. Kalau ke barat ya harus ninggalin timur?

Makanya saya terus bilang, “Bu, kalau orang suluk, dia akan hilang egonya, individualnya, ananiyah-nya. Yang akan tajalli itu Tuhan. Ketika Tuhan tajalli, Tuhan al-’alim, Tuhan al-raziq, Tuhan arrahman. Lalu ibu akan berinteraksi dengan siapa? Jadi suami ibu nggak ada, yang ada hanya Yang Pengasih dan Penyayang. Pasti dia al-raziq. Ketika dia kerja, kasih uang, dia sebagai al-raziq, bukan sebagai manusia yang memberi nafkah pada isteri. Nah banyak orang melupakan hal ini. Ketika manusia menyatu dengan Tuhan, orang pikir kalau kita mau suluk, kita akan tinggalkan semuanya. Padahal dalam al-Qur’an Allah itu kan wahuwa ma’akum, Dia bersama dengan kalian, ainamaa kuntum, dimana saja kalian berada. Jadi kalau kita menjadi manifestasi Tuhan, kita bukan hanya dengan keluarga, kita bersama dengan semua manusia, pohon, alam, dsb. Contoh. Nabi Muhammad SAW. sampai sekarang hadir bersama kita. Nabi Muhammad saw. bukan keberadaan temporal. Sampai sekarang ia bersama kita. Assalamu’alaika ayyuhan Nabi. Jadi bukan terputus dari kehidupan, justru semakin terkait dengan kehidupan.

Nah, ada juga problem Mas. Masyarakat kan sering memisahkan akal dengan hati. Artinya, mungkin bisa dijelaskan perbedaan fungsional antara reason (rasio) dengan intelek (qalbu)?
Kalau reason, kan berada di wilayah ilmu hushuli, konseptual. Padahal ilmu konseptual sebenarnya produksi manusia sendiri. Tapi kalau intelek itu ilmu hudhuri, dimana subjek dan objek tidak terpisah. Antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak pernah terpisah. Dia menyatu. Seperti, saya sadar dengan diri saya sendiri. Aku tahu aku. Aku subjek, aku juga objek kan. Demikian juga, aku lapar. Lapar itu satu objek pengetahuan, kita tahu. Subjek ilmu, saya kan. Tapi lapar bukan berada diluar saya, tetapi didalam diri saya sendiri. Bukan identitas saya juga, tetapi sebagian dari aspek saya.

Kalau Maulana Rumi menceritakan perbedaan itu. Diceritakan ada kompetisi melukis, menggambar taman bunga. Satu group minta kanvas, kuas, dan cat yang paling bagus. Sementara group lain hanya minta cermin. Setelah jadi dilihat, oh ini lukisannya bagus, lukisan di kanvas, persis seperti taman, tapi cuma satu dimensi saja. Sementara cermin kan refleksi, oh ini persis sekali. Nah, kalau filsuf itu melukis realitas, dengan konsep, ide dan pemahamannya. Kalau seorang ‘arif, realitas dimasukkan dalam hatinya, cermin itu qalbu-nya. Realitasnya ada didalam cermin, jadi tidak terpisah dari dia. Makanya dalam hadist, “Bumi tidak bisa menempatkan Aku, langit juga tidak bisa, kecuali qalbu mu’min”. Nah dimana kita menempatkan Tuhan yang tidak terbatas? Dengan merefleksikan Dia tentunya.

Cermin itu didalam manusia?

Qalbu itu cermin. Allah ada disitu. Qalbu kan divine, bukan human. Gimana qalbu bisa menempatkan Tuhan yang tidak terbatas, kecuali kalau qalbu itu sendiri adalah Tuhan. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, maksudnya ya Tuhan yang mengenal diri-Nya sendiri. Nggak mungkin manusia kenal Tuhan. Jadi Tuhan itu mengenal diri-Nya sendiri.
Intelek seperti itu. Kalau ilmu hushuli kan konsep, melukis realitas. Kalau ilmu hudhuri, kita masukkan realitas dalam hati. Kalau kita melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Nabi melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Jadi Nabi setiap ada permasalahan selalu bertanya kepada Allah, itu bahasa teologisnya. Tetapi sebenarnya, Aku adalah Dia. Jadi bukan politik humanis lagi, tapi politik divine. Disini filsafat perennial, tasawuf, atau irfan, mau menghidupkan divinity (ketuhanan) dalam diri manusia. Ketika Tuhan hadir, kan alaa bi dzikrillahi tathmainnul qulub. Salah satu nama Tuhanpun al-Mu’min, Yang Memberi Keamanan. Jadi ketika Dia hadir, Dia akan memberi keamanan pada semunya. Kan ada hadist, al-mu’min miratul mu’min (mukmin adalah cermin bagi mukmin). Disini yang bercermin bukan antara dua manusia mukmin, tetapi antara mukmin manusia dengan al-Mukmin (Tuhan).

Di Paramadina saya pernah ditanya, “Tuhan dengan manusia kan beda?” Saya jelaskan, dalam al-Qur’an ada ayat tentang Nabi Muhammad, innama ana basyarun mistlukum (Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian). Saya bertanya pada Bapak itu, “Pak, disini jelas bahwa Muhammad itu seperti manusia, seperti kalian, mistlukum. Seperti, jadi sebenarnya bukan persis manusia. Lalu kalau begitu, Muhammad itu apa?”
Maksudnya?

Tuhan mau menyelamatkan manusia di bumi ini. Tetapi kalau Tuhan menurunkan manusia, sama kan, kualitas, karakter. Jadi nggak bakal selamat. Maka yang harus membimbing manusia itu harus Aku, kata Tuhan. Makanya Aku akan jadikan manusia, khalifah:
cermin Aku sendiri. Jadi Tuhan, mau membimbing manusia tanpa meninggalkan langit, caranya bagaimana? Bahasa simbolisnya kan. Kalau Tuhan turun, langit kosong dong. Kan di al-Qur’an, fi al-samaai Ilaahun fi al-ardli Ilaahun (di langit Tuhan, di bumi Tuhan). Satu cara untuk Tuhan turun ke bumi, tanpa meninggalkan langit itu, taruh cermin dibawah, namanya khalifatullah. Dia sendiri yang datang. Al-Haadi, Yang Memberi Petunjuk.

Cara atau metodologi dalam kedua ilmu yang berbeda itu seperti apa Mas? Al-Ghazali berkata, bahwa pencarian kebenaran tidak hanya melalui rasio, tetapi juga eksperimental ruhaniyah. Apakah seperti itu?

Mereka yang belum menyadari kehadiran intelek, paling tidak memiliki panca indera, dan rasio. Indera kita gunakan untuk melihat, afalaa tadabbarun, kamu lihat langit dan bumi, dan kamu kontemplasi. Rasio untuk berpikir. Sementara proses pemikiran kan berada dibawah bimbingan wahyu, dari Dia juga. Jadi tidak terputus dari Tuhan. Nah kita gunakan semua ini, untuk diarahkan pada kesadaranintelektus tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.
Pertama, kita harus menempatkan diri kita dalam ruang agama. Tidak mungkin diluar agama. Sekarang di Barat ada yang nggak pakai agama, spiritual universal. Kata mereka, kalau sudah terikat oleh agama, maka tidak universal lagi. Padahal kalau kita terikat pada satu agama, kita makin universal. Karena tidak mungkin ada universal tanpa partikular. Contoh. Orang bilang kalau sudah ada batin, nggak butuh dhahir lagi. Bisa nggak saya bilang, saya kenal atas, tapi bawah saya nggak tahu? Nggak bisa kan. Kenal atas karena kenal bawah. Dhahir itu ada, karena ada batin kan, demikian sebaliknya. Nah, dalam agama ada jalan esoteris, jalan yang menghubungan manusia dengan al-Haq. Manusia harus ikut jalan itu. Itu syarat yang berada diluar diri manusia.
Kedua, cara yang ada dalam diri manusia. Yakni himmah (aspirasi yang tinggi). Kata Syeh Ahmad Mustafa al-Alawy, dalam buku Sufi Abad ke-20 (Mizan), syarat minimal jika manusia ingin menuju Tuhan adalah himmah, aspirasi yang tinggi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Misal, dalam satu tempat yang gelap, maka satu lubang cahaya yang dikit saja, itu sudah cukup. Kalau nggak ada lubang, semua tertutup, kita nggak bisa melampaui ruang yang gelap.

Kata Hadist Qudsy, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta”.

Ya. Ketika ada aspirasi baru ada respon, Jadi adzkuruunii adzkurukum, jika kau mengingat Aku, maka Aku pun mengingatmu. Setelah himmah, maka harus ada iman. Iman kepada agama. Agama terbentuk dari wahyu, dan wahyu sebenarnya manifestasi dari Dia, jadi iman kepada Dia sebenarnya. Ini yang subjektif, himmah dan iman. Sementara yang objektif tadi, agama dan jalan dalam agama. Seorang sufiberkata, “Dari Tuhan kepada manusia ada jalannya. Tapi dari manusia ke Tuhan, nggak ada jalannya”. Jadi kalau ada orang tenggelam, yang melempar tali itu siapa? Orang yang dikapal atau yang tenggelam? Jadi jalan dari kapal ke laut ada, tapi kalau sebaliknya tidak ada. Oleh karena itu syariat dari Tuhan, bukan manusia yang membuat syariat. Jalan thariqah pun harus dari Tuhan. Karena kita kan berada di luar, mau kedalam. Apa kita buat jalan sendiri? Nggak mungkin. Itu yang saya maksudkan, agama harus ada “jalan kedalam”, dari batin agama itu sendiri.

Rabu, 23 Oktober 2013

Korupsi Berlaku Jika Landasannya Masih UUD "Ujung-Ujungnya Duit"


Melihat dan mendengar fenomena pemberitaan media terkini, mengenai NKRI rasanya hati menangis dan ingin menjerit sekeras-kerasnya, akhir akhir ini banyak kalangan yang kecokok tersandung kasus korupsi. Praktik korupsi ini sudah seakan-akan tidak hanya sekedar budaya belaka, akan tetapi sepertinya telah menjelma menjadi kebutuhan dan tujuan para oknum pejabat tertentu. Bahkan siapapun yang akan menjabat tentu akan melakukan hal yang sama. Sedang jikalau sekarang mereka masih berani berbicara lantang mengenai pemberantasan korupsi. Hal ini hanya sekedar daftar tunggu untuk menggantikan para koruptor tersebut. Suara lantang dari para penyanyi  penyeru anti korupsi sebenarnya hanya retorika tebar pesona guna menggantikan jabatan yang sekarang masih dijabat orang lain. Semangat menunggu giliran untuk korupsi sudah terbayang dan terencana mulai dini sebelum menjadi pejabat nantinya. Inilah yang kami takutkan secara pribadi. Memang tak dapat dipungkiri segala urusan yang berkenaan dengan perputaran uang negara tidak luput atau rawan akan terinveksi virus korupsi tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana hasil dari sebuah proyek kalau sebelum proyek dijalanka, para koruptor sudah mengambil ancang-ancang untuk melakukannya. Para penyunat anggaran mulai dari mandor proyek sampai pengetuk kebijakan antara proyek itu dijalankan atau tidak, semua minta bagian atas korupsi masal tersebut. Kasus nyata itu terlihat sekali pada proyek gelanggang olahraga hambalang, proyek pengadaan simulator SIM, impor daging sapi, bahkan yang terkini kasus suap yang melibatkan petinggi pengetuk palu kebijakan konstitusi. perilaku korupsi yang kian marak tersebut di negeri ini, nampaknya telah lengkap sudah dari segala pihak lembaga yang ada di negeri ini seperti beberapa oknum dari kalangan Eksekutif, legislatif bahkan juga pihak Yudikatif pun ikut turut andil serta, semua hampir telah terjangkit virus mengerikan ini. sungguh miris menahan tangis kala mendengar dan mengetahui berita semacam ini di berbagai media. dan  alangkah semakin lucunya negeri ini, jikalau kita amati secara seksama dan teliti bersama, sedih, kecewa rasanya kita yang menjadi bagian penduduk dari negeri ini. Jika pihak yang seharusnya mengawasi dan berwenang mengadili juga turut serta perlu untuk diawasi dan bahkan harus diadili, rasanya seperti senjata makan tuan. jika demikian ini terus menerus terjadi maka kelak akan jadi apa negara ini?, bagaimana nasib bangsa ini kedepan?, bagaimana perkembangan kemajuan negeri tercinta ini di masa depan, maju mundurnya bangsa dan negara tergantung oleh segenap lapisan pihak yang menjadi penghuni negera tersebut. Mungkinkah keadilan negeri ini sudah punah atau hukum tak berlaku lagi, jikalau demikian maka apa bedanya negara dengan hutan rimba, kalau yang menang yang berkuasa. Karna kekuasaan yang disalah gunakanlah ketimpangan keadilan ini terjadi. Mereka oknum yang berkuasa seolah-olah menggunakan kekuasaanya hanya untuk memperbesar diri, memperkaya diri, mendongkrak popularitas diri menguasai dengan cara yang tidak dibenarkan oleh aturan perundang-undangan yang berlaku bahkan aturan agama pun telah tak dihiraukan lagi. Aturan hukum perundang-undangan serta aturan hukum agama yang seharusnya tuntunan dizaman ini malah hanya menjadi tontonan belaka.
Nampaknya hukuman yang berupa bui atau penjara dan denda saja, saat ini sudah tak berlaku lagi, kadang mereka yang jadi tahanan, jadi tersangka, terdakwa berlanjut ke terpidana malah seringkali menyunggingkan senyum manis jika disorot wartawan atau masuk berita di media. Seakan tak ada rasa menyesal jika perbuatannya diketahui publik. Ada pula yang miris lagi sudah jadi tahanan, malahan didalam tahanan kehidupannya bagai hidup di dalam hotel, villa atau apartemen bokingan. Berbagai fasilitas mewah mereka dapatkan didalamnya, ada yang ditahan dapat tidur nyenyak di kasur empuk, ruangan berpendingin AC dan bahkan di lengkapi dengan berbagai fasilitas atau perlengkapan rumah tangga lengkap seperti Kulkas, Televisi. Kompor gas, atau alat penanak nasi. Dan yang lebih mengejutkan lagi didalam tahanan penjara ada yang bisa mengaplikasikan alat komunikasi  seperti beberapa gadget canggih edisi terbaru lagi, misalnya Blackberry, Tablet Android, Laptop, Ipad, dan lain sebagainya yang tak bisa kami sebutkan lagi sebab terlalu banyak jenisnya. penjara yang seyogyanya merupakan ruang yang bisa menjadikan seseorang jera dan berinstrospeksi  diri, kini nampaknya tidak lagi berfungsi. Malahan beralih fungsi sebagai tempat persembunyian yang nyaman, layaknya tempat peristirahatan yang nyaman dan menyenangkan untuk disinggahi, untuk memanjakan diri atau  menghibur kegalauan diri, atau bisa dikatakan juga sebagai tempat yang cocok untuk liburan. lalu ada yang lebih mengejutkan lagi yakni ada beberapa oknum tahanan yang bisa keluar masuk penjara, mereka bisa keluar masuk tahanan bahkan kelayapan untuk liburan, ke luar kota. luar pulau, bahkan ada yang bisa keluar negeri, sungguh ngeri-ngeri negeri ini. Apa-apaan ini?, mereka yang mencuri uang rakyat yang nilainya jutaan, milyaran bahkan ada yang sampai menembus angka kisaran trilyunan, masih dapat menghirup udara bebas dan segar bahkan hukumannya terfasilitasi seperti bantuan hukum (pengacara atau kuasa hukum dan sebagainya) dengan seenaknya. Lain halnya dengan mereka oknum terpidana pencuri ayam dan sejenisnya nilai yang dicurinya hanya puluhan ribu saja, harus mendekam di tahanan yang sempit, dan berbau. Bahkan ada yang terkena denda dan sanksi yang tidak setimpal dengan perbuatan yang mereka lakukan. Hal demikianlah yang menjadikan rakyat ini semakin kecewa dengan aturan hukum yang ada di negeri ini. Seakan bak hutan rimba tadi, pokoknya yang menang yang berkuasa. karna bisa kongkalikong, bekerjasama untuk tawar menawar mengenai denda dan hukuman terhadap perbuatan salah yang telah dilakukan. Benar kata plesetan orang-orang yang menyatakan jika negeri ini masih berlandaskan UUD “Ujung-Ujungya Duit” maka selamanya keadilan tidak akan bisa terwujud dengan selaras dan seimbang. Karna hukum bisa di beli oleh mereka yang ber uang.
Menilik fakta-fakta kelucuan negeri tadi, kami pernah mengimpikan dan berangan-angan mungkinkah jikalau diadakan tambahan hukuman yang berupa bakti sosial atau kerja bakti tanpa bayaran selama kurun waktu beberapa tahun bagi para koruptor, disesuaikan dengan tingkat beratnya pelanggaran atau kesalahan yang pernah dilakukan oleh para oknum koruptor pada masa lalunya, Adapun sistem dari kerja bakti tadi adalah dengan cara mempekerjakan mereka setelah mereka keluar dari tahanan sekaligus pembayaran denda dan sebagainya sampai tuntas, kemudian setelah itu mereka diberi pekerjaan dengan ditempatkan di berbagai instansi, seperti lembaga sosial, yayasan-yayasan sosial misalnya yayasan penyandang cacat,yatim piatu atau penyantun anak jalanan, yayasan keagamaan, misalnya dilibatkan menjadi anggota dewan masjid, anggota gereja, pura dan lain sejenisnya. Atau bisa juga pada yayasan pendidikan yang masih belum memiliki gedung atau yang bisa disebut dengan sekolah alam bagi anak kurang mampu, gelandangan, anak jalanan dan sebagainya, yang sistem kerjanya tanpa ada bayaran, upah atau pamrih apapun. Tujuan utamanya untuk melatih keikhlasan berjuang. yang tanpa pamrih berbakti membangun negeri. Sehingga mereka dapat merasakan betapa pentingnya suatu pengabdian, belajar akan sesungguhnya arti perjuangan  didalam kehidupan, menjalani sesungguhnya hidup berjuang dengan serba kekurangan atau minimnya fasilitas, agar para pelaku tindak pidana korupsi menjadi jera, bisa berinstropeksi diri sehingga tidak mengulangi kesalahanya lagi.
Ada alternatif hukuman lagi, yakni dapat pula terpidana korupsi itu setelah keluar dari bui ditempatkan disuatu desa atau daerah yang terpencil dan minim fasilitas atau masih dalam tahap perkembangan pembangunan. dan setidaknya mereka juga bisa ikut andil bagian untuk turut serta membangun daerah yang tertinggal, seperti halnya mereka bisa turut serta dalam kerja bakti membangun jalan raya, membangun saluran irigasi bagi pemukiman maupun persawahan, ikut serta dalam gotong royong membangun jembatan yang melintasi sungai dan tepian jurang, adapun dalam hal domisili atau tempat tinggal mereka bisa disuruh untuk membuat rumah singgah sementara seperti gubug, tenda, atau mereka  bisa juga membuat rumah yang terbuat dari kayu di tengah hutan sebagai tempat singgah, ya pokoknya hidup nomaden seperti manusia purba zaman dahulu yang berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya, dan adapun dalam hal ini KPK perlu untuk melibatkan pihak aparatur pemerintah daerah atau desa yang hutannya disinggahi oleh para terpidana koruptor tersebut, untuk menjadi pengawas, pemantau, pemandu, penanggungjawab dan sebagainya yang berkaitan didalam proses hukuman pengabdian bagi para terpidana koruptor tersebut. Oleh karena itu tidak ayal lagi, kalau memang KPK mau dan mampu bekerja serius, dalam arti lebih intens lagi. Maka siap-siap saja Indonesia membangun penjara terbesar di dunia dan di tempatkan dalam pulau tersendiri guna menampung para pelaku koruptor tersebut.
Korupsi merupakan kejahatan berat, dan akibatnya juga berat. bagaimana tidak berat? kekayaan yang semestinya dinikmati oleh orang banyak, ternyata hanya dinikmati perorangan atau golongan bahkan dengan cara yang tidak layak dan baik pula. NKRI ini akan kian jauh dari peningkatan dan kemajuan bahkan terus mengalami kebobrokan, selama budaya korupsi masih terus berjalan. jika segala sesuatu diukur dengan uang maka praktek-praktek korupsi itu kian menggejala, menjadi anggota legislatif atau yudikatif misalnya, ujung-ujungnya pun untuk kepentingan uang. Label negeri gemah ripah loh jinawe jauh dari angan, kalau praktek korupsi ini tidak segera dihentikan dengan paksa dan hukuman setimpal bagi pelakunya. Untuk meminimalisir dan menangkal perihal korupsi tersebut.

Perlu difahami, Korupsi itu mengandung hisab yang lebih berat di akhirat. misalnya seseorang yang memakan harta rakyat  sebesar Rp. 1.000.000,- itu lebih berat hukumannya daripada mencuri Rp. 100 milyar milik satu orang. sebab jika mengkorupsi harta milik rakyat, maka urusannya dengan seluruh penduduk negeri, namun bila benda yang dikorupsi itu milik satu orang, maka urusannya pun hanya dengan satu orang tersebut.

Disamping itu, segala hal yang dikorupsi, akan dibawa nanti di akhirat, seperti yang telah tersirat dalam (QS.3:161), Dahulu misalnya orang mencuri kambing besok kambing itu akan dimunculkan lagi oleh Allah SWT. Dan akan dipikul orang tersebut. Kalau misalkan hasil korupsinya dilakukan money laundry atau dibelikan mobil atau rumah maka benda itu yang akan dipikulnya kelak.

Sudah seyogyanya haruslah kita melawan perilaku korupsi itu dengan gerakan-gerakan moral anti korupsi, bentuk-bentuk korupsi dan bahaya  yang diakibatkannya harus senantiasa disosialisasikan kepada khalayak bisa melalui berbagai bentuk kegiatan sepertihalnya media tulis, cetak, elektronik seperti ini. Dengan cara inipara penulis dan sastrawan bisa ambil peran. Lewat tulisan mereka mencoba mengambil peran yang gagal diambil aturan dan undang-undang. Hukum dan undang-undang tak cukup efektif memberantas korupsi. Hingga saat ini, ketika aparat penegak hukum bekerja keras menjalankan undang-undang, tetap saja masih banyak koruptor berkeliaran. Akhirnya penulis dan penyair indonesia berkesempatan untuk berkreasi menulis lembar keluh kesah mereka akan korupsi. penulis mencoba ambil peran untuk mengetuk nurani,dengan harapan sederhana, semoga orang akan terketuk hatinya saat membaca tulisan. Orang akan tersadar betapa hinanya menikmati harta yang seharusnya dinikmati orang lain. dan memang sepantasnya koruptor itu dikucilkan dari muka bumi ini.