Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2013

Gambar Tes Ketelitian dan IQ

Inilah gambar untuk mengetahui seberapa ketelitian anda, cobalah tebak dan jawab sesuai dengan pertanyaannya masing-masing, langsung saja,.selamat mencoba,.semoga berhasil,...:)
 
1. Apakah ini adalah gambar kapal laut atau pilar? 
refleksi-mata-1
2. Apakah merupakan Gambar Penonton atau Gedung?
refleksi-mata-2
3. Berapa banyak kuda yang bisa anda temukan? Jika mata anda cukup tajam, anda seharusnya menemukan 7.
refleksi-mata-3
4. Berapa banyak orang dalam gambar ini?
refleksi-mata-4
5. Cincin yang mustahil
refleksi-mata-5
6. Karpet hidup
refleksi-mata-6
7. Air terjun atau manusia terjun?
refleksi-mata-7
8. Ada lima ekor rusa yang bersembunyi di hutan… Bisakah anda menemukannya?
refleksi-mata-8
refleksi-mata-9
10. Bisakah anda menemukan empat orang dalam gambar?
refleksi-mata-10
11. Siapakah yang tertinggi? Percaya atau tidak, ketiganya ini sebenarnya
 sama tinggi!
refleksi-mata-11
12. Sebuah wajah? … atau sebuah kata ‘liar’?
refleksi-mata-12
13. Apa yang anda lihat? Bisakah anda melihat kata “LIFT”? Atau hanya sebuah gambar kotak-kotak hitam tanpa makna?
refleksi-mata-13
14. Temukanlah wajah-wajah dalam gambar ini:
Ada sebelas wajah dalam gambar. Bisakah anda menemukan semuanya?
Orang normal akan menemukan empat atau lima.
Jika anda menemukan 8, anda memiliki tingkat ketelitian lebih dari orang normal.
Jika anda menemukan 9, anda memiliki tingkat ketelitian diatas rata-rata.
Jika anda menemukan 10, anda sangat teliti.
Jika anda menemukan 11, anda luar biasa teliti!
 
refleksi-mata-14
15. Fokuskan pandangan mata anda pada titik di tengah lingkaran, lalu gerakkan kepala anda maju mundur. Aneh, bukan?
refleksi-mata-15
ilusi-garis
17. Coba lihat dari dekat gambar ini, dan ingat gambar tersebut, lalu coba berdiri dari komputer dan mundur 3-4 langkah, lihat kembali gambar tersebut..aneh ya?!
tipuan-mata-23
tipuan-mata-24
18. Gambarnya Berdenyut-denyut.
tipuan-mata-14 
19. Berapa Titik Hitamnya?
tipuan-mata-15 
20. Ada tangga melayang?
tipuan-mata-16
21. Spiral? Anda pasti mengira gambar ini adalah gambar spiral, ups.. tunggu dulu coba jari anda menelusuri salah satu garis melingkar, nah apakah anda masih bersikeras mengatakan gambar ini adalah gambar spiral?
tipuan-mata-17
22. Apa yang anda lihat ? Apakah gambar kelihatan berputar?? Mata anda benar-benar tidak jujur, karena gambar ini sebenarnya diam. Kalau tidak percaya perhatikan dengan fokus salah satu lingkaran saja, apakah berputar?
tipuan-mata-19
23. Garis-garis horizontalnya bengkok-bengkok……………. Coba teliti lagi..!
tipuan-mata-20
24. Bergerakkah gambar ini?
tipuan-mata-22
tipuan-mata-21

Jumat, 25 Oktober 2013

Bagaimana Kita Menjadi Cerdas

Ungkapan Howard Gardner dalam bukunya, Frames of Mind, itu mengirimkan pesan betapa mahal harga kecerdasan bagi manusia. Karena itu, kajian tentang kecerdasan manusia masih menjadi tema yang menarik diperbincangkan, baik dalam forum serius maupun santai seraya lesehan. Sebab, segala tingkah laku manusia sesungguhnya merupakan aspek turunan referensial sekaligus wujud dari kinerja saraf-saraf kecerdasan itu sendiri.
Bermula dari Kecerdasan Intelektual atawa Intelligence Quotient (IQ). Istilah IQ pertama kali dilontarkan Alfred Binet, seorang psikolog Perancis pada awal abad ke-20. Namun sebenarnya embrio konsep IQ disuluh Charles Spearman (1904) dengan teori Two Factor dan juga Thurstone (1938) dengan teori Primary MentalAbilities. Hatta, di kemudian hari Lewis Terman dari Universitas Stanfordberupaya membakukan tes IQ yang selanjutnya dikenal dengan Tes Stanford-Binet.
Konsep IQ selama puluhan tahun diyakini sebagai parameter kecerdasan manusia yang terletak di otak bagian cortex (kulit otak). Daya kreasi hitungan, analogi, dan imajinasi inovatif merupakan ciri khas kecerdasan ini. Maka, tepatlah jika kecerdasan intelektual ditandai dengan istilah what I think.

Hingga menjelang akhir abad ke-20, dominasi kecerdasan intelektual mulai digoyang Daniel Goleman saat memopulerkan Kecerdasan Emosional alias Emotional Quotient (EQ). Seturut konsepsi Goleman, dengan kecerdasan emosi manusia sanggup mengenali perasaan sendiri di tengah jejaring relasi sosial, sehingga mampu mengelola letup-letup emosi ketika berinteraksi dengan sesama. Dengan demikian, IQ yang memuja paradigma linieritas mulai goyah dengan paradigma biner EQ. Manusia dianggap baik dan karena itu patut diapresiasi tidak semata-mata pintar dengan skor tes IQ tinggi, tetapi lebih-lebih lantaran ia mampu menempatkan diri secara sinergis-mutualistis dalam konteks interaksi horizontal. Para psikolog mengunci jenis EQ dengan istilah what I feel.
Namun belakangan EQ masih dirasa belum cukup di tengah deru era modern yang menghamba pada kecanggihan teknologi informasi ini. Manusia di era modern acapkali mengalami kegersangan spiritual. Lantas muncullah konsep Kecerdasan Spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) di altar abad ke-21. Hasil riset Danah Zohar (HarvardUniversity) dan Ian Marshall (Oxford University) yang dihelat dalam Spiritual Capital serta merujuk The Binding Problem karya Wolf Singer, menemukan adanya God Spot dalam otak manusia. God Spot ini dianggap sebagai pusat spiritual (spiritual center) yang terletak di antara jaringan otak dan saraf yang memintal jalinan makna terhadap pengalaman hidup. Intinya, SQ menuntun manusia mengarungi samudera kebermaknaan hidup.
Sampai di sini muncul ide kreatif Ary Ginanjar Agustian yang mencoba menggabungkan EQ dan SQ dengan cetusan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Dengan mengusung ESQ Ary Ginanjar hendak menjernihkan kembali pemikiran menutu God Spot, menciptakan format berpikir dan emosi bersandar pada kesadaran diri (self awareness), mengupayakan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan mengacu pada asas-asas Rukun Islam, serta melakukan aliansi sinergis dengan lingkungan sosial.

Hanya saja konsepsi ESQ yang diusung Ary Ginanjar masih mengabaikan ruang ruhani dengan segala perangkatnya (dzauq, aql, shadr, fu’âd, qalb, bashîrah,dan lubb) yang beroperasi di wilayah hati. Bahkan masing-masing logika IQ, EQ, dan SQ pun setali tiga uang. Ketiganya takkan sanggup mengungkap kebenaran realitas dengan se­benar-benarnya dan seterang-terangnya. Apalagi arus globalisasi dan teknologi informasi yang terus bergelombang acapkali menciptakan pusaran persoalan yang pelik. Tak jarang manusia tiba-tiba tergeragap. Menyadari betapa akal buntu berpikir dan bebal. Emosi pun liar serupa daun kering yang mudah terbakar. Sampai-sampai terombang-ambing di tengah ketidakpastian.

Fenomena ini sering menghantui masyarakat modern di tengah realitas serba tak terduga (hiperrealitas). Potensi kecerdasan IQ, EQ, SQ, dan ESQ tak mampu lagi menjadi sandaran. Untuk itu, dibutuh­kan sebuah logika yang lebih luas dan lebih dalam dari itu. Dan, pada ruang inilah karya monumental Ilung S.Enha menemukan signifikansinya. Dengan trengginas, Ilung mendedahkan konsep kecerdasan baru, yakni Kecerdasan Laduni atau Laduni Quotient (LQ). Sebab, logika laduni merupakan pengejawantahan dari kecerdasan ruhaniah yang merupakan puncak akumu­lasi dari logika rasional, logika intuitif, dan logika spiritual.
LQ mengusung misi memadukan perangkat kecerdasan otak dan perangkat kecerdasan hati, untuk kemudian dihu­bung­kan ke pusat atmosfir energi ruh. Sebab, untuk dapat mem­fungsi­kan LQ dibutuhkan energi yang sangat besar. Sedangkan energi yang berkumpar di dalam hati, masih kurang mencukupi. Apalagi sekadar energi yang terkandung di dalam otak manusia.
Di ruang pusat atmosfir energi ruh terkandung segala bentuk energi yang dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup ma­nusia dan guna mempercepat proses kecerdasan. Tak hanya ener­gi kecerdasan yang tersimpan di sana, melainkan juga ener­gi kesadaran, energi kekuatan, energi kecermatan, energi perce­pat­an, energi kesabaran, energi keikhlasan, energi gerak yang tiada kenal putus asa, energi niat dan kesungguhan, energi ino­vasi, energi hening dan kebeningan, serta sederet energi-energi lain yang bisa diurai sendiri.

Dan, buku ini bakal menuntun pembaca untuk meniti jembatan LQ. Buku ini secara jeli menyingkap celah-celah kosong yang dilewati IQ, EQ, SQ, dan ESQ. Berbeda dengan buku-buku kecerdasan lain yang kebanyakan bertutur tentang kecerdasan secara teoritis, buku ini beranjak lebih jauh. Wacana kecerdasan laduni tidak sekadar dihamparkan, akan tetapi dikaji dengan kritis untuk direkonstruksi, sehingga kesan kecerdasan laduni yang rumit dan berbelit-belit segera runtuh. Inilah kontribusi Ilung yang laik diapresiasi. Di tangan Ilung, kecerdasan laduni yang dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang berat menjadi ringan dan begitu santai

Memahami Cara Kerja Intuisi

Pengertian

Istilah intuisi memiliki banyak pengertian. Ada yang mengartikannya sebagai kapasitas batin yang membuat kita mengetahui sesuatu ketika pikiran kita tidak mengetahuinya. Intuisi adalah kemampuan untuk mengetahui sesuatu tanpa melalui proses reasoning atau conscious analyzing hingga kita bisa menjawab "what to do". Intuisi dalam pengertian seperti di atas, kata banyak orang malah sebenarnya semakin kita butuhkan di era informasi dan globalisasi ini. Lho, kok gitu? Bukannya teknologi sudah semakin mampu membuat kita mengetahui sesuatu yang otak kita tidak mengetahuinya, seperti SMS, internet, dan seterusnya dan seterusnya?
Di atas kertas putih, memang logika seperti itu bisa diterima. Tapi, kenyataan punya logika yang berbeda. Di era dimana informasi menjadi semakin berlimpah seperti sekarang ini, justru terkadang malah membuat kita semakin kurang informatif karena saking banyaknya informasi. Di samping itu, perubahan realitas yang dipicu oleh kemajuan teknologi, juga menuntut orang-orang tertentu harus mengambil keputusan cepat dan tepat. Untuk memutuskan sesuatu yang dasarnya informasi akurat secara internal dan eksternal, maka peranan intuisi menjadi semakin besar. Apa gunanya kita mengetahui banyak berita tentang dunia ini melalui tivi, hape, radio, internet, dan lain-lain, tetapi kita tidak mengetahui informasi yang tepat, yang membuat kita tahu apa yang mesti kita lakukan?
Seperti itulah kira-kira argumen yang kerap muncul. Albert Einstein (1879-1955) mungkin punya argumen tersendiri saat mengatakan: "The only real valuable thing is intuition." Padahal, track record-nya adalah ilmuwan, yang kalau menurut lazimnya, harus berbicara mengenai pentingnya reasoning, analyzing, knowing by fact, dan seterusnya. Ada lagi yang mengartikannya sebagai cara belajar, lebih tepatnya adalah bagaimana seseorang mendapatkan informasi dan mengambil keputusan. Cara belajar yang intuitive, menurut Jean M. Kummerow, dkk (Work Types: 1997), berbeda dengan cara belajar yang sensitif (sensing: meraba materi). Bentuk cara belajar intuitive itu antara lain: abstrak, imajinatif, koleksi ide-ide, teoritis, dan original (personal uniqueness).
Intuisi juga diartikan sebagai Alam Bawah Sadar (The Unconscious Mind) atau sesuatu yang kita lakukan tanpa proses berpikir secara sadar atau sudah menjadi kebiasaan. Ini seperti layaknya seorang sopir kendaraan yang mengetahui sesuatu tentang kendaraannya di jalan secara otomatik tanpa proses menemukan fakta logis lebih dahulu, misalnya mengukur besar-kecilnya atau harus ke kanan atau kiri.

Mendukunisasi Intuisi

Ada lagi istilah lain untuk menjelaskan apa itu intuisi. Istilah itu adalah kecerdasan hati (heart intelligence). Hati kita lebih sering dapat mengetahui sesuatu secara lebih cepat ketimbang nalar. Karena itu, orang-orang tua sering menasehati "ikuti kata hatimu" saat kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Dari sekian pengertian intuisi yang kelihatannya berbeda itu, ternyata dapat memberikan penjelasan yang sangat logis mengenai cara kerjanya. Intuisi adalah kapasitas atau kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada kita, yang fungsinya adalah memberi tahu tentang "What to do" dan "What not to do"saat kita tidak punya bekal pengetahuan atau dalam kondisi tidak sempat mencari pengetahuan.

Seperti kita alami sehari-hari, dalam hidup ini sudah biasa kalau kita harus memberi response atau  jawaban terhadap persoalan, padahal kita tidak tahu atau belum sempat bertanya. Namanya juga perang, tentu harus ada pukulan yang tak bisa kita prediksi. Mungkin atas dasar itulah Tuhan membekali kita dengan intuisi. Kan tidak lucu kalau kita selalu harus buka buku dulu setiap perlu mengambil keputusan dengan cepat? Nah, supaya kecerdasan intuisi itu lebih sanggup memberikan akurasi yang bagus, tentu perlu dilatih. Sayangnya, tidak ada sekolah atau kursus untuk ini sehingga harus dari inisiatif sendiri. Salah satu caranya adalah dengan menjalankan intuitive learning, seperti yang disarankan di muka. Latihan akan membuat kita dapat mengambil keputusan secara unconsciuous (tidak usah dipikir dulu).
Seperti yang sudah kita bahas di sini, ketika kita sudah sanggup melakukan sesuatu dengan cepat (tanpa perlu berpikir keras, panjang dan lama) dan tingkat akurasi yang tinggi (The unconsciously skilled), maka tingkat keahlian kita sudah tinggi levelnya. Stephen R. Covey, menyebutnya sebagai habit. Untuk melatih habit, maka syaratnya harus tiga, yaitu: a) mengasah ketrampilan, b) menambah pengetahuan, dan c) memiliki keinginan yang kuat. (Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly of Effective People: Simon & Schuster, Inc., 1993).
Nah, sebagai kapasitas atau kecerdasan yang menunggu sentuhan, maka akan lebih beruntung jika kita tidak selalu mendukunisasi intuisi. Dukunisasi dalam arti menghilangkan pemahaman yang berbasis akal sehat mengenai intuisi. Kita lebih sibuk memburu "orang pintar" yang dapat memberi jawaban instan tanpa latihan. Atau lebih sibuk kirim SMS ketimbang melatih proses. Memang, ada banyak jalan yang diturunkan Tuhan untuk mengetahui sesuatu, tanpa melalui proses reasoning, selain intuisi, dari mulai wangsit, bisikan jin, ilham, insting yang unik, dan seterusnya. Tetapi, secara fakta, tidak ada yang validitas, akurasi, dan kemanfaatannya melebihi proses yang berbasiskan akal sehat jika kepentingannya untuk mengetahui "what to do" atau "what not to do". Bisa saja kita dapat informasi dari "orang pintar" bahwa bisnis kita itu harus mengandung air atau kayu. Tapi kalau latihannya tidak jalan untuk mengasah intuisi yang berbasiskan akal sehat, hampir dipastikan kinerjanya sangat rendah. Bisa-bisa kalah oleh ketakutan, suara egoisme, ambisi, atau kalah oleh khayalan.

Mengelola Keleluasaan Dan Keterbatasan 

Tuhan memang menurunkan sekian keunikan kepada kita. Di samping memberi keleluasaan yang tak terbatas, kita pun dikasih keterbatasan. Agar kita bisa bergerak cepat saat tidak tahu harus kemana, Tuhan memberi kita intuisi. Tapi intuisi pun tak bisa menghilangkan keterbatasan, lebih-lebih menjadikan kita manusia yang tak pernah salah. Ini mustahil.
Selain terkait dengan proses mengasah kecerdasan, dimana setiap orang punya bentuk keterbatasan yang berbeda-beda, akurasi dan validitas intuisi juga terkait dengan jam terbang, spesialisasi atau wilayah perjuangan hidup. Penulis punya intuisi yang lebih tajam untuk hal-hal yang terkait dengan tulisan, begitu juga dengan teknisi IT yang sudah bisa mengetahui sebelum tahu. Sama juga dengan pengusaha, politikus, dan lain-lain. Memang harus diakui, ada sebagian orang yang dikasih intuisi hanya spesifik, sesuai bidangnya, dan ada yang dikasih ketajaman intuisi secara generik, dalam arti mampu melampaui bidangnya. Misalnya seorang guru yang bisa melihat muridnya secara intuitif. Itu sepertinya sudah merupakan hak veto Tuhan untuk membedakan dan menyamakan manusia.
Keterbatasan lainnya adalah mengetahui suara intuisi yang pas untuk keadaan yang pas. Ini juga tidak seratus persen dapat kita jamah. Adakalanya intuisi itu tampil dalam bentuk blitz (cahaya) yang sudah langsung tergambar di otak dari hati, innatefeeling (perasaan yang mengarahkan kita), kecondongan keyakinan, terulangnya kejadian yang kebetulan-tapi-tidak-kebetulan, dan lain-lain. 
Intinya, selain dikasih kapasitas untuk mengambil keputusan berdasarakan tool yang nyata, seperti pengetahauan, reasoning, dan seterusnya, Tuhan pun mengasih kita tool yang tidak nyata. Mulai dari intuisi, hidayah, ilham, feeling, insting, mimpi, dan seterusnya. Bedanya pada kualitas kinerja. Supaya kinerjanya bagus, harus dilatih. Supaya latihannya jalan, memang harus ada connectedness.

Sangkan Paraning Dumadi

Di tradisi spiritual kita ada istilah Sangkan Paraning Dumadi atau anjuran untuk mengetahui darimana dan mau kemana kita ini. Secara makro, pasti kita sudah tahu bahwa istilah itu mengajarkan kita untuk mengetahui Tuhan. Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan juga. Yang kerap kita lupakan adalah menggeret penerapannya ke ruang lingkup yang paling mikro, yaitu mengetahui diri kita. Padahal, pengetahuan diri merupakan kunci untuk mengetahui Tuhan. Walaupun kita sudah diajari mengenal Tuhan, tapi kalau belum mengenal diri, bisa-bisa pengetahuan kita tentang Tuhan baru di tingkat normatifnya, yang baru bagus untuk menjawab ujian sekolah, tapi kerap gagal untuk menjawab ujian kehidupan.

Cara yang diajarkan untuk mengenal diri, dari sejak turunnya para Nabi sampai ke temuan spiritual modern, adalah membangun komunikasi dengan diri agar tercipta connectedness (keterhubungan) antara kita dengan diri kita, dari yang sifatnya paling global sampai ke yang paling detail, dari yang paling makro sampai ke yang paling mikro. Ini misalnya saja mengenal dimana wilayah / bidang kita, mengenal kelebihan dan keunikan kita, mengenal visi dan nilai yang kita perjuangkan, atau mengenal Sangkan Paraning Dumadi kita sebagai hamba Tuhan yang harus tunduk dan sebagai khalifah Tuhan yang harus kreatif dengan kebebasan. 
Intensitas dan kualitas komunikasi (connectedness) kita dengan diri sangat terkait dengan kinerja intuisi, entah yang spesifik atau yang generik, jika dikaitkan dengan bagaimana keputusan akan kita ambil, "what to do"dan "what not to do". Untuk sebagai monitor, kita bisa mengecek bagaimana proses pengambilan keputusan itu melalui pertanyaan di bawah ini:
1.       Apakah kita sudah sering mengambil keputusan secara spontan lalu bekerja untuk menjalankan keputusan itu dan hasilnya lebih sering OK-nya?
2.        Apakah kita terbiasa mengambil keputusan melalui proses “pikir-pikir” dulu, menimbang salah-benarnya, lamban bertindak, dan hasilnya terkadang OK dan terkadang TIDAK OK?
3.       Apakah kita terbiasa mengambil keputusan melalui penolakan dulu, lari ke argumen moral dan retorika norma, tidak bersikap, tidak bertindak, dan hasilnya tidak mengubah apa-apa? 

Jika yang sering kita lakukan nomor (1), maka intuisi kita sudah bekerja lebih bagus karena connectedness kita sudah lebih intens. Kita sudah tahu lebih cepat what to do dan what not to do. Tapi kalau yang nomor (2), intensitas komunikasi kita masih lebih sering pada teori atau logika umum yang kita hafal sehingga kita butuh waktu atau butuh buka buku dulu. Sedangkan untuk nomor (3), bisa ada dua kemungkinan. Mungkin kita lebih intens dengan nafsu egoisme kita sehingga sering menolak apa yang terjadi (bukan menyikapi atau work on terhadap apa yang terjadi) atau mungkin lebih intens dengan khayalan kita sehingga lebih sering mengidealisasikan kenyataan, bukan menghadapi kenyataan.

Latihan Bersikap


Setiap hari, Tuhan melatih kita untuk menggunakan berbagai kapasitas, misalnya dengan memberi kejutan buruk, memberi pengalaman, atau pilihan dan puzzle. Terkadang, lebih sering kita menolak secara batin atau membiarkannya begitu saja. Padahal, kalau kita sikapi secara cepat, ini bisa melatih ketajaman intuitif, entah yang spesifik atau yang jenerarl. Bahwa untuk awal-awal ada banyak kesalahan, namanya juga belajar. Semoga bermanfaat.

referensi:

Stephen R. Covey, 7 Habits of Highly of Effective People: Simon & Schuster, Inc.,1993
Dari pelbagai buku literatur psikologi.

Selasa, 22 Oktober 2013

HARGA DIRI DENGAN PRESTASI BELAJAR

Pengertian Self Efficacy

Bandura (1986) mendefinisikan self efficacy sebagai penilaian seseorang akan kemampuannya untuk mengorganisasikan dan melaksanakan serangkaian perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai tipe-tipe performansi yang telah direncanakan. Pengertian lain dari self efficacy adalah kepercayaan individu akan kemampuan dirinya untuk menghadapi suatu hambatan. Self efficacy adalah keyakinan individu akan kemampuannya melakukan suatu tugas dengan berhasil pada tingkat tertentu atau keyakinan individu bahwa ia mampu melakukan suatu tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan berhasil. Self efficacymenentukan jenis perilaku pengatasan, berapa lama individu mampu berhadapan dengan hambatan-hambatan yang tidak diinginkan dan berapa besar usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi persoalan atau menyelesaikan suatu tugas (Bandura, 1986). Self efficacy  meliputi kepercayaan diri, kemampuan menyesuaikan diri, kapasitas kognitif, kecerdasan dan kapasitas bertindak pada situasi yang penuh tekanan.

Sumber Pembentukan Harga Diri
Ada empat aspek menurut Coopersmith (1967) yang menjadi  sumber pembentukan harga diri seseorang. Empat hal tersebut adalah :
a.       Keberartian (significant)
Keberartian individu nampak dari adanya penerimaan, penghargaan, perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan dan perhatian biasanya ditujukan dengan adanya penerimaan dari lingkungannya, ketenaran dan dukungan keluarga. Semakin banyak ekspresi kasih sayang yang diterima individu, individu akan semakin berarti. Tetapi apabila individu tidak atau jarang memperoleh stimulus positif dari orang lain, maka kemungkinan besar individu akan merasa ditolak dan mengisolasikan diri dari pergaulan.
b.      Kekuatan (power)
Kemampuan untuk mempengaruhi dan mengontrol diri sendiri serta orang lain. Pada situasi tertentu kebutuhan ini ditunjukkan dengan adanya penghargaan, penghormatan dari orang lain. Pengaruh dan wibawa juga merupakan hal-hal yang menunjukkan adanya aspek ini pada seorang individu. Dari pihak individu, seseorang yang mempunyai kemampuan seperti ini biasanya akan menunjukkan sifat-sifat asertif dan explanatory actionsyang tinggi.
c.       Kompetensi (competence)
Merupakan performance atau penampilan yang prima dalam upaya meraih kesuksesan dan keberhasilan. Dalam hal ini penampilan yang prima ditunjukkan dengan adanya skill atau kemampuan yang merata untuk semua usia. Dengan adanya kemampuan yang cukup, individu akan merasa yakin untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Individu dengan kompetensi yang bagus akan merasa setiap orang memberi dukungan padanya. Individu akan merasa mampu mengatasi setiap masalah yang dihadapinya serta mampu menghadapi lingkungannya.
d.      Kebajikan (virtue)
Adanya kesesuaian diri dengan moral dan standar etik yang berlaku di lingkungan. Kesesuaian diri dengan moral dan standar etik diadaptasi individu dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh para orang tua. Permasalahan nilai ini pada dasarnya berkisar pada persoalan benar dan salah. Bahasan tentang kebajikan juga tidak akan lepas dari segala macam pembicaraan mengenai peraturan dan norma di dalam masyarakat, juga hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta ketaatan dalam beragama.

Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi adalah sebuah hasil yang dicapai dari proses aktivitas yang berlangsung secara baik, dan prestasi belajar berarti sebuah hasil yang memuaskan dari proses belajar yang baik (Winkel, 1983). Menurut Purwanto (2003), prestasi merupakan penilaian terhadap sesuatu yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pengajaran yang diberikan guru pada siswanya dalam waktu tertentu.
Belajar menurut Whittaker (dalam Djamarah, 2002) sebagai proses tingkah laku yang ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Cronbach (dalam Djamarah, 2002) juga berpendapat belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003). Sedangkan menurut Djamarah (2008), belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri (Syah, 2010). Menurut Syah (2009), belajar dapaat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Azwar (1996) berpendapat bahwa prestasi atau keberhasilan belajar pada proses belajar di sekolah dapat dioperasionalisasikan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan, predikat keberhasilan dan semacamnya. Menurut Hidayati (1997), tujuan belajar adalah untuk mencapai hasil belajar yang baik. Hasil belajar tersebut merupakan hasil suatu proses belajar seseorang yang berupa pengertian-pengertian baru, kecakapan maupun kematangan dalam bersikap dan bertindak yang dapat diukur dengan alat yaitu tes. Hasil pengukuran dengan tes ini dapat mencerminkan kemampuan yang disebut dengan istilah prestasi belajar.
Dalam bidang pendidikan prestasi akademik merupakan hasil dari berbagai faktor antara lain faktor kemampuan dasar dan bakat yang dimiliki serta fasilitas yang memadaai. Kegagalan dalam prestasi akademik bisa disebabkan karena kemampuan dasarnya tidak menyokong atau bakatnya kurang menunjang, atau kurangnya fasilitas yang memungkinkan mengaktualisasikan kemampuan dasar dan bakat khusus yang sebenarnya dimiliki (Gunarsa dan Gunarsa, 2008).

Jenis Adversity Quotient (AQ)
Stoltz (2001) mengibaratkan manusia yang menghadapi masalah dalam kehidupannya sebagai seseorang yang menempuh perjalanan menuju puncak gunung. Oleh karena itu,  Stoltz  membaginya menjadi tiga tipe, yakni :
a.       Tipe Quitters, yakni tipe orang yang mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan dan beban hidup yg dilaluinya. Orang dengan tipe demikian akan selalu melihat kesulitan di balik peluang-peluang yang ada sehingga akan mudah putus asa. Orang yang memiliki tipikal ini tidak mau menghadapi, cenderung mengabaikan bahkan akan lari dari masalah yang ada. Karyawan dengan tipe ini akan menghindari permasalahan yang terjadi diorganisasi karena merasa beban yang dirasakan terlalu berat. Akibatnya, berbagai permasalahan psikologis seringkali mengjangkiti karyawan tipe ini sehingga menurunkan produktivitas kerjanya.
b.      Tipe Campers, yakni orang dengan tipe yang sudah berusaha menghadapi persoalan dan permasalahan yang ada, namun karena permasalahan itu selalu menerjang, orang tersebut merasa “perjalanannya cukup sampai di sini”. Karyawan dengan tipe ini bersedia menghadapi permasalahan yang terjadi dalam organisasi. Namun, karena permasalahan yang ditimbulkan tidak kunjung selesai, karyawan lebih memilih berdiam diri dan menerima kondisi yang ada sebagai konsekuensi dari kondisi organisasi. Karyawan dengan tipe ini mungkin menemukan kepuasan, namun potensi yang dimiliki tidak sepenuhnya keluar kaena memutuskan berhenti sebelum permasalahan benar-benar teratasi.
c.       Tipe Climbers, yakni orang yang selalu berjuang menghadapi permasalahan yang ada meskipun masalah itu selalu muncul dan menerjang. Orang tersebut tidak akan berhenti untuk mencapai puncak meskipun harus melewati terjalnya pegunungan ataupun badai di tengah perjalanan. Karyawan dengan tipe climbers akan selalu berusaha melewati masalah yang terjadi apalagi masalah yang terjadi dalam organisasi merupakan permasalahan jangka panjang. Karyawan seperti ini tidak akan lari dari permasalan yang ada meskipun masalahnya membuat kondisi psikologisnya sangat terbebani. Karyawan akan segera beradaptasi dengan kondisi menekan tersebut kemudian memikirkan alternatif solusi pemecahan permasalahan organisasi. Hambatan dan keterbatasan dijadikan kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi sehingga produktivitas kerjanya semakin maksimal. 



Pendidikan; Aspek Prestasi Belajar
Menurut Gagne (Seifert, 2008), ada lima aspek prestasi belajar, yaitu:
a.    Kecakapan intelektual
Kecakapan intelektual meliputi diskriminasi, konsep dan aturan. Bentuk kecakapan intelektual yang paling konkrit adalah diskriminasi
1)    Diskriminasi, yaitu kecakapan untuk membedakan objek dari ciri-ciri nyata objek tersebut atau menyadari perbedaab dari dua buah objek.
2)    Kecakapan konsep terdiri dari pengelompokkan mental terhadap objek atau peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain.
3)    Kecakapan aturan, yaiu mengaplikasikan sejumlah hubungan diantara sejumlah konsep mnjadi sebuah contoh yang khusus.
b.    Strategi kognitif
Strategi kognitif ialah menemukan metode untuk membuat proses berpikir dan belajar menjadi lebih efektif. Misalnya, menggunakan cara yang paling efisien dalam mengingat nama-nama. 
c.    Kecakapan verbal
Kecakapan verbal yaitu kemampuan untuk menyatakan label, fakta atau makna esensial dari pengetahuan verbal. Misalnya, mengutip nama-nama negara Eropa atau menyatakan esensi dari sebuah alamat.
d.    Kecakapan motorik
Kecakapan motorik yakni memperlihatkan sebuah tindakan menurut standar-standar kesempurnaan. Misalnya berenang, menulis.
e.    Kecakapan sikap

Kecakapan sikap ialah memilih untuk bertindak dengan satu cara ketimbang cara lain atau memilih sebuah rangkaian kegiatan tertentu. Misalnya memilih untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah ketimbang pergi nonton ke bioskop

Jumat, 18 Oktober 2013

Makalah Psikologi “Persiapan Menuju Pernikahan”

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang                                
Allah telah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan, tetumbuhan, pepohonan, hewan, semua Allah ciptakan dalam sunnah keseimbangan & keserasian. Begitupun dengan manusia, pada diri manusia berjenis laki-laki terdapat sifat kejantanan atau ketegaran dan pada manusia yang berjenis wanita terkandung sifat kelembutan atau kepengasihan. Sudah menjadi sunatullah bahwa antara kedua sifat tersebut terdapat unsur tarik menarik dan kebutuhan untuk saling melengkapi.
Untuk merealisasikan terjadinya kesatuan dari dua sifat tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar-benar manusiawi maka Islam telah datang dengan membawa ajaran pernikahan Islam menjadikan lembaga pernikahan sebagai sarana untuk memadu kasih sayang diantara dua jenis manusia. Dengan jalan pernikahan itu pula akan lahir keturunan secara terhormat. Maka adalah suatu hal yang wajar jika pernikahan dikatakan sebagai suatu peristiwa yang sangat diharapkan oleh mereka yang ingin menjaga kesucian fitrah.
Dan bahkan Rosulullah SAW dalam sebuah hadits secara tegas memberikan ultimatum kepada ummatnya: “Barang siapa telah mempunyai kemampuan menikah kemudian ia tidak menikah maka ia bukan termasuk umatku” (H.R. Thabrani dan Baihaqi).


1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis akan mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
Persiapan fase perkembangan remaja untuk memasuki dunia perkawinan
Persiapan pranikah bagi muslimah
Pemahaman criteria dalam memilih atau menyeleksi calon suami
Langkah yang ditempuh dalam kaitannya untuk memilih calon
Pentingnya mempelajari tata cara untuk memilih nikah sesuai dengan ajaran dan syariat Islam
Seputar masalah persiapan nikah
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui persiapan fase perkembangan remaja memasuki dunia perkawinan
b.Untuk mengetahui persiapan pranikah bagi muslimah
Untuk mengetahui pemahaman kriteria dalam memilih atau menyeleksi calon suami
d.Untuk mengetahui langkah yang ditempuh dalam kaitannya untuk memilih calon
e.Untuk mengetahui  pentingnya mempelajari tata cara untuk memilih nikah sesuai dengan ajaran dan syariat Islam
Untuk mengetahui seputar masalah persiapan nikah
BAB II PEMBAHASAN
 A.      Persiapan Fase Perkembangan Remaja untuk Memasuki Dunia Perkawinan
Pada akhir pendidikan SD, atau awal SLTP anak-anak bertumbuh cukup cepat dan memasuki masa baru, yakni masa remaja, dalam bahasa latin disebut pubertas. Masa ini merupakan masa yang penting dalam persiapan menuju perkawinan.
Segi pertama pertumbuhan masa ini adalah fisik. Remaja putri meng alami perubahan-perubahan besar, yang sangat mungkin menggoncangkan jiwanya bila tidak didampingi. Ia mungkin merasa kaget mengalami menstruasi pertama karena mengira akibat dari penyakit. Ia mungkin merasa risih dan malu-malu ketika dadanya mulai membesar. Ia perlu didampingi, agar memahami makna perubahan tersebut secara positif. Hal yang sama berlaku untuk remaja putra. Ia mungkin kaget melihat rambut tumbuh di beberapa bagian tubuhnya dan merasa canggung ketika suaranya berubah.
Segi kedua dari perubahan ini adalah psikis. Seorang remaja mulai merasa rangsangan seksual dan mengalami rasa tertarik kepada jenis kelamin lain. Tetapi hatinya gelisah karena merasa kurang pantas, atau bahkan dianggap jahat di mata Tuhan. Maka ia perlu didampingi dan dibantu untuk memahami hal itu sebagai persiapan dari Tuhan sendiri, agar ia kelak mampu mengasihi seorang suami atau istri selama hidupnya.
Ketiga adalah segi sosial. Sesuai pertumbuhan pada segi pertama dan kedua, seorang remaja merasa butuh berkelompok dengan teman-teman sebayanya. Ia merasa kurang enak bergaul dengan anak-anak, tetapi juga merasa canggung bergaul dengan muda-mudi, apalagi orang dewasa. Bersama dengan teman-teman sebayanya, ia merasa lebih mampu memilih pakaian dan aksesori lain yang cocok baginya. Bersama mereka pula ia merasa lebih bebas membagi perasaan mengenai lawan jenis atau idolanya.
Seorang remaja belum mampu mengatasi pergolakan jiwanya. Ia belum memahami dengan baik makna perubahan-perubahan yang ada di dalam dirinya. Keadaan ini merupakan landasan bagi orang tua untuk tetap mengikatnya di dalam lingkungan keluarga dalam arti yang positif.
Bantuan positif itu terutama harus diarahkan pada pemahaman dan penghayatan masa remaja sebagai masa persiapan perkawinan yang berasal dari Tuhan sendiri. Pada masa inilah Tuhan mempersiapkan badannya agar kelak siap menjadi suami atau istri yang sehat dan wajar. Pada masa inilah Tuhan mengembangkan rasa tertarik rangsangan seksual yang kelak berguna dalam hidup sebagai suami atau istri.
Pada usia 15-20, sebagai pemuda atau pemudi sudah lebih memahami adanya perubahan pada tubuh dan kejiwaannya. Seorang pemuda sudah tahu, rasa tertarik kepada lawan jenis itu wajar dan biasa. Sedangkan seorang pemudi sudah tahu, menstruasi itu alamiah dan sehat. Hal yang justru perlu ditumbuhkan adalah kesadaran akan perlunya persiapan yang baik untuk merintis pekerjaan atau profesi, yang kelak dapat dipakai untuk mencukupi nafkah dan memuaskan dahaga batiniahnya. Suami bukanlah semata-mata seorang yang mengasihi dan dikasihi istri, melainkan juga seorang dewasa yang selayaknya mampu mencari nafkah, sekurang-kurangnya untuk dirinya sendiri. Dalam perspektif kesetaraan gender, pencarian nafkah keluarga bukanlah merupakan hak dan kewajiban suami saja. Semua hal yang terkait dengan hidup berkeluarga merupakan tanggung jawab bersama suami dan istri.
Sebagian dari anak muda sudah mulai berpacaran. Rasa tertarik terhadap jenis kelamin lain mendorong sebagian dari mereka berteman secara khusus dan dekat dengan pacar. Ada yang berjalan lancar dan tahan lama. Ada pula yang tidak lancar dan cepat putus. Bahkan, ada juga yang secara sengaja punya beberapa pacar sekaligus.
Orang tua perlu bersikap bijaksana. Sebaiknya dihindari kedua sikap ekstrem. Ekstrem yang satu bersifat keras, serba melarang. Sedang ekstrem yang lain bersifat liberal, serba membolehkan. Sikap yang benar dan tepat ada di tengah kedua ekstrem ini. Pacaran jangan dilarang, apalagi bila sudah terjadi. Lebih berguna dan lebih baik bila orang tua membantu anaknya berpacaran dengan baik dan benar, baik dari segi moral maupun social.
Pada segi moral, penting diingatkan kepada anak-anak yang sedang berpacaran, bahwa “roh itu kuat, tetapi daging lemah”. Manusia itu bukan malaikat. Maka, harus disadarkan bahwa mereka berdua harus bersepakat; kemesraan mereka adalah kemesraan terbatas. Harus dijauhi bentuk kemesraan yang dapat menjerumuskan ke hubungan seksual pranikah. Sebab, dilihat dari segi manapun, hal itu tidak pernah menguntungkan pihak mana pun juga.
B.       Persiapan Pra Nikah bagi muslimah
Seorang muslimah sholihah yang mengetahui urgensi dan ibadah pernikahan tentu saja suatu hari nanti ingin dapat bersanding dengan seorang laki-laki sholih dalam ikatan suci pernikahan. Pernikahan menuju rumah tangga samara (sakinah, mawaddah & rahmah) tidak tercipta begitu saja, melainkan butuh persiapan-persiapan yang memadai sebelum muslimah melangkah memasuki gerbang pernikahan.
Nikah adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat penting, suatu mitsaqan ghalizan (perjanjian yang sangat berat). Banyak konsekwensi yang harus dijalani pasangan suami-isteri dalam berumah tangga. Terutama bagi seorang muslimah, salah satu ujian dalam kehidupan diri seorang muslimah adalah bernama pernikahan. Karena salah satu syarat yang dapat menghantarkan seorang isteri masuk surga adalah mendapatkan ridho suami. Oleh sebab itu seorang muslimah harus mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persiapan-persiapan menjelang memasuki lembaga pernikahan. Hal tersebut antara lain :

Persiapan spiritual/moral (Kematangan visi keislaman)
Dalam tiap diri muslimah, selalu terdapat keinginan, bahwa suatu hari nanti akan dipinang oleh seorang lelaki sholih, yang taat beribadah dan dapat diharapkan menjadi qowwam/pemimpin dalam mengarungi kehidupan di dunia, sebagai bekal dalam menuju akhirat. Tetapi, bila kita ingat firman Allah dalam Alqur’an:
“wanita yang keji, adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….” (QS An-Nuur: 26).
Bila dalam diri seorang muslimah memiliki keinginan untuk mendapatkan seorang suami yang sholih, maka harus diupayakan agar dirinya menjadi sholihah terlebih dahulu. Untuk menjadikan diri seorang muslimah sholihah, maka bekalilah diri dengan ilmu-ilmu agama, hiasilah dengan akhlaq islami, tujuan nya bukan hanya semata untuk mencari jodoh, tetapi lebih kepada untuk beribadah mendapatkan ridhoNya. Dan media pernikahan adalah sebagai salah satu sarana untuk beribadah pula.
Persiapan konsepsional (memahami konsep tentang lembaga pernikahan)
Pernikahan sebagai ajang untuk menambah ibadah & pahala : meningkatkan pahala dari Allah, terutama dalam Shalat Dua rokaat dari orang yang telah menikah lebih baik daripada delapan puluh dua rokaatnya orang yang bujang” (HR. Tamam).
Pernikahan sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan dienullah. Adapun dengan lahirnya anak yang sholih/sholihah maka akan menjadi penyelamat bagi kedua orang tuanya.
Pernikahan sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) dan ladang dakwah. Dengan menikah, maka akan banyak diperoleh pelajaran-pelajaran & hal-hal yang baru. Selain itu pernikahan juga menjadi salah satu sarana dalam berdakwah, baik dakwah ke keluarga, maupun ke masyarakat.
Persiapan kepribadian
Penerimaan adanya seorang pemimpin. Seorang muslimah harus faham dan sadar betul bila menikah nanti akan ada seseorang yang baru kita kenal, tetapi langsung menempati posisi sebagai seorang qowwam/pemimpin kita yang senantiasa harus kita hormati & taati. Disinilah nanti salah satu ujian pernikahan itu. Sebagai muslimah yang sudah terbiasa mandiri, maka pemahaman konsep kepemimpinan yang baik sesuai dengan syariat Islam akan menjadi modal dalam berinteraksi dengan suami.
Belajar untuk mengenal (bukan untuk dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami kita, sesungguhnya adalah orang asing bagi kita. Latar belakang, suku, kebiasaan semuanya sangat jauh berbeda dengan kita menjadi pemicu timbulnya perbedaan. Dan bila perbedaan tersebut tidak di atur dengan baik melalui komunikasi, keterbukaan dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul persoalan dalam pernikahan. Untuk itu harus ada persiapan jiwa yang besar dalam menerima & berusaha mengenali suami kita.
Persiapan Fisik
Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun isteri secara optimal. Saat sebelum menikah, ada baiknya bila memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi masalah reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi baik, atau adakah penyakit tertentu yang diderita yang dapat berpengaruh pada kesehatan janin yang kelak dikandung. Bila ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat.
Persiapan Material
Islam tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka diutamakan adanya kesiapan calon suami untuk menafkahi. Dan bagi fihak wanita, adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Insyallah bila suami berikhtiar untuk menafkahi maka Allah akan mencukupkan rizki kepadanya. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah? (QS. 16:72) ” Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32)”.
Persiapan Sosial
Setelah sepasang manusia menikah berarti status sosialnya dimasyarakatpun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sehingga mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,”Q.S. An-Nissa: 36).
Adapun persiapan-persiapan menjelang pernikahan tersebut di atas itu tidak dapat dengan begitu saja kita raih. Melainkan perlu waktu dan proses belajar untuk mengkajinya. Untuk itu maka saat kita kini masih memiliki banyak waktu, belum terikat oleh kesibukan rumah tangga, maka upayakan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya guna persiapan menghadapi rumah tangga kelak.
Pemahaman Kriteria dalam Memilih atau Menyeleksi Calon Suami
 Utamakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama yang baik
Bagaimana ibadah wajib laki-laki yang dimaksud
Sejauh mana konsistensi & semangatnya dalam menjalankan syariat Islam
Bagaimana akhlaq & kepribadiannya
Bagaimana lingkungan keluarga & teman-temannya
Catatan : Seorang laki-laki yang sholih akan membawa kehidupan seorang wanita menjadi lebih baik, baik di dunia maupun kelak di akhirat .
Sekufu
Memudahkan proses dalam beradaptasi
Tapi ini tidak mutlak sifatnya, karena jodoh adalah rahasia Allah
Batasan-batasan siapa yang yang terlarang untuk menjadi suami (QS 4:23-24; QS2: 221
D.      Langkah-langkah yang ditempuh dalam Kaitannya untuk Memilih Calon
Menentukan kriteria calon pendamping (suami ). Diutamakan lelaki yang baik agamanya.
Mengkondisikan orang tua dan keluarga , Kadang ketidaksiapan orang tua dan keluarga bila anak gadisnya menikah menjadi suatu kendala tersendiri bagi seorang muslimah untuk menuju proses pernikahan. Penyebab ketidak siapan itu kadang justru berasal dari diri muslimah itu sendiri, misalnya masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan, belum dapat bertanggung jawab dsb. Atau kadang dapat juga pengaruh dari lingkungan, seperti belum selesai kuliah (sarjana) tetapi sudah akan menikah. Hal-hal seperti ini harus diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya, agar pelaksanaan menuju pernikahan menjadi lancar.
Mengkomunikasikan kesiapan untuk menikah dengan pihak-pihak yang dipercaya Kesiapan seorang muslimah dapat dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang dipercaya, agar dapat turut membantu langkah-langkah menuju proses selanjutnya.
Taâ’aruf (Berkenalan) , Proses taâ’aruf sebaiknya dilakukan dengan cara Islami. Dalam Islam proses taâ’aruf tidak sama dengan istilah pacaran. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan kondisi dua insan berlainan jenis yang khalwat atau berduaan. Yang mana dapat membuka peluang terjadinya saling pandang atau bahkan saling sentuh, yang sudah jelas semuanya tidak diatur dalam Islam. Allah SWT berfirman “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” QS 17:32).
Rasulullah SAW bersabda : “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Bila kita menginginkan pernikahan kita terbingkai dalam ajaran Islami, maka semua proses yang menyertainya, seperti mulai dari mencari pasangan haruslah diupayakan dengan cara yang ihsan & islami.
Bermusyawarah dengan pihak-pihak terkait , Bila setelah proses taâ’aruf terlewati, dan hendak dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka selanjutnya dapat melangkah untuk mulai bermusyawarah dengan pihak-pihak yang terkait.
Istikhoroh , Daya nalar manusia dalam menilai sesuatu dapat salah, untuk itu sebagai seorang msulimah yang senantiasa bersandar pada ketentuan Allah, sudah sebaiknya bila meminta petunjuk dari Allah SWT. Bila calon tersebut baik bagi diri muslimah, agama dan penghidupannya, Allah akan mendekatkan, dan bila sebaliknya maka akan dijauhkan. Dalam hal ini, apapun kelak yang terjadi, maka sikap berprasangka baik (husnuzhon) terhadap taqdir Allah harus diutamakan.
Khitbah , Jika keputusan telah diambil, dan sebelum menginjak pelaksanaan nikah, maka harus didahului oleh pelaksanaan khitbah. Yaitu penawaran atau permintaan dari laki-laki kepada wali dan keluarga fihak wanita. Dalam Islam, wanita yang sudah dikhitbah oleh seorang lelaki, maka tidak boleh untuk dikhitbah oleh lelaki yang lain. Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Janganlah kamu mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah saudaranya, sampai yang mengkhitbah itu meninggalkannya atau memberinya izin “(HR. Muttafaq alaihi).
 E.       Pentingnya Mempelajari Tata Cara Nikah Sesuai dengan Anjuran & Syariat Islam
Sebenarnya tata cara pernikahan dalam Islam sangatlah sederhana dibandingkan tata cara pernikahan adata atau agama lain. Karena Islam sangat menginginkan kemudahan bagi pelakunya. Untuk itu memahami tata cara pernikahan yg Islami menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi calon pasangan muslim. Dengan melaksanakan secara Islami, maka sebisa mungkin untuk menghindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan tata cara pernikahan yang berbau syirik menyekutukan Allah). Karena hanya kepada Allah SWT sajalah kita memohon kelancaran, kemudahan, keselamatan dan kelanggengan pernikahan nanti. Untuk beberapa hal yang harus kita ketahui tentang tatacara nikah adalah masalah sbb:
Dewasa (baligh) & Sadar
Wali , “Tidak ada nikah kecuali dengan wali” (HR.Tirmidzi J.II Bukhari Muslim dalam Kitabu Nikah),
Mahar , “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan” (QS: 4:4)
- Semakin ringan mahar semakin baik. Seperti sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Uqbah bin Amir: “Sebaik-baiknya mahar adalah paling ringan (nilainya).”
- Bila tak memiliki materi, boleh berupa jasa. Semisal jasa mengajarkan beberapa ayat al-Qur’an atau ilmu-ilmu agama lainnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah berkata kepada seorang pemuda yang dinikahkannya : “Telah aku nikahkan engkau dengannya (wanita) dengan mahar apa yang engkau miliki dari Al-Quran” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Adanya dua orang saksi
5. Proses Ijab Qobul , Proses Ijab Qabul adalah proses perpindahan perwalian dari Ayah/Wali wanita kepada suaminya. Dan untuk kedepannya makan yang bertanggung jawab terhadap diri wanita itu adalah suaminya. Syarat-syarat diatas adalah ketentuan yang harus dipenuhi dalam syarat sahnya prosesi suatu pernikahan. Selain itu dianjurkan untuk mengadakan walimatul ‘ursy, dimana pasangan mempelai sebaiknya diperkenalkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar bahwa mereka telah resmi menjadi pasangan suami isteri, sebagai antisipasi terjadinya fitnah.
F. Seputar Masalah Persiapan Nikah
a. Sudah siap, tetapi jodoh tidak kunjung dating. Rahasia jodoh adalah hanya milik Allah, tidak ada satu orangpun yang dapat meramalkan bila jodohnya datang. Sikap husnuzhon amat diutamakan dalam fase menunggu ini. Sembari terus berikhtiar dengan cara meminta bantuan orang-orang yang terpercaya dan berdo’a memohon pertolongan Allah. Juga upayakan senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Hindari diri dari berangan-angan, isilah waktu oleh kegiatan-kegiatan positif .
b.    Belum siap, tetapi sudah datang tawaran Introspeksi diri, apakah yang membuat diri belum siap ?. Cari penyebab ketidak siapan itu, tingkatkan kepercayaan diri dan fikirkan solusinya. Sangat baik bila mengkomunikasikan masalah ini dengan orang-orang yang dipercaya, sehingga diharapkan dapat membantu proses penyiapan diri. Sembari terus banyak mengkaji urgensi tentang pernikahan berikut hikmah-hikmah yang ada di dalamnya.
BAB III PENUTUP
Agama Islam sudah sedemikian dimudahkan oleh Allah SWT, tetap masih saja ada orang yang merasakan berat dalam melaksanakannya perintahkan tersebut padahal Allah Taâ’ala telah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu” (Q.S. Al-Baqarah : 185)
Kita lihat, betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses pernikahan. Proses pemilihan jodoh, dalam peminangan, dalam urusan mahar dan juga dalam melaksanakan akad nikah. Demikianlah beberapa pandangan tentang persiapan pernikahan dan berbagai problematikanya, juga beberapa kiat untuk mengantisipasinya. Insyallah, jika ummat Islam mengikuti jalan yang telah digariskan Allah SWT kepadanya, niscaya mereka akan hidup dibawah naungan Islam yang mulia ini dengan penuh ketenangan dan kedamaian . Wallahuâ’alamu bi showab.
DAFTAR PUSTAKA
Adhim Fauzil Muhammad. 2003. Saatnya untuk Menikah. Jakarta : GIP
‘Adzim, Fauzil Muhammad. 2003. Agar Cinta Bersemi Indah. Jakarta: GIP.
“Adzim, Fauzil Muhammad. 2003. Disebabkan Oleh Cinta Kupercayakan Rumahku Padamu.Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Al Ghazali, ‘Abdul Aziz. 2003. Menahan Pandangan Menjaga Hati. Jakarta : GIP.
Al Mukaffi, Abdurrahman. 2003. Pacaran dalam Kacamata Islam. Jakarta : Media Dakwah
Al Munajjid Shalih Muhammad. 2002. 4o Nasihat Rumah Tangga. Jakarta : Pastaka Azzam
Iwan, Januar O Shalih. 2003. Jangan Nodai Cinta. Jakarta: GIP.
Takariyawan, Cahyadi. 2000. Di Jalan Dakwah Aku Menikah. Yogyakarta: Tiga Lentera Utama.

Minggu, 13 Oktober 2013

Otak Dengan Perilaku

Selama ini kita sering mendengar bahwa bagian otak tertentu mempengaruhi perilaku tertentu. Misalnya kreativitas dikendalikan oleh otak kanan, atau kegiatan menghitung (matematika) pada belahan otak kiri, dan sejumlah asumsi lain yang belum ada teori dan penelitian yang menjelaskan tentangnya.

Menurut Phares, Nietzel dkk (1992 & 1998), ada dua prinsip yang berlaku pada hal ini, yaitu prinsip lokalisasi fungsi (localization of function) dan lateralisasi fungsi (lateralization of function).

Lokalisasi fungsi (Localization of function)
Lokasisasi fungsi menyebutkan bahwa otak manusia diatur menurut model pembagian, bagian yang berbeda bertanggungjawab terhadap keterampilan atau indera yang berbeda. Otak merupakan prosesor informasi yang independen satu sama lain. Equipotential theory berpendapat bahwa seluruh area otak memberikan sumbangan yang sama terhadap keberfungsian otak secara keseluruhan. Alternatif lain, yang diformulasikan dari pendapat Hughlings Jackson, dalah localization-equipotential theory, yang berpendapat bahwa keterampilan paling dasar dapat dilokalisir, namun perilaku yang tampak bersifat kompleks sehingga melibatkan otak sebagai suatu keseluruhan.

Lateralisasi fungsi (Lateralization of function)

Lateralisasi fungsi berpendapat bahwa otak memiliki dua belahan, yaitu kiri dan kanan. Belahan otak kiri mengendalikan aktivitas tubuh di sisi kanan dan berhubungan dengan fungsi bahasa, logika dan kemampuan analisis. Sebaliknya belahan otak kanan mengendalikan sisi tubuh sebelah kanan dan lebih banyak berhubungan dengan kampuan visual-spatial, kreativitas, music dan persepsi arah. Hal yang penting adalah kedua belahan saling berkomunikasi satu sama lain dan membantu koordinasi dan integrasi perilau manusia yang kompleks.