Tampilkan postingan dengan label Simplisia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Simplisia. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Rincian Simplisia Piperis Folium (Daun Sirih)



Nama Daerah

Sumatra : Furu kuwe, Ranub, Belo, Demban
Jawa : Seddah, Suruh, Sere
Kalimantan : Uwit, Buyu, Uduhsifa, Sirih
Sulawesi : Gapura, Baulu, Dondili

Pemerian

Bau aromatik khas, rasa pedas, khas

Pemeriksaan Makroskopik 

Daun tunggal, warna coklat kehijauan sampai coklat. Helaian daun berbentuk bundar telur sampai lonjong, ujung runcing, pangkal berbentuk jantung atau agak bundar berlekuk sedikit, pinggir daun rata agak menggulung ke bawah, panjang 5 cm sampai 18,5 cm, lebar 3 cm sampai 12 cm, permukaan atas rata, licin agak mengkilat, tulang daun agak tenggelam; permukaan bawah agak kasar, kusam, tulang daun menonjol, permukaan atas berwarna lebih tua dari permukaan bawah. tangkai daun bulat, warna coklat kehijauan, panjang 1,5cm sampai 8cm.

Pemeriksaan Mikroskopik 

Epidermis atas terdiri dari satu lapis sel, berbentuk persegi empat, kutikula tebal licin, pada pengamatan tangensial tampak berbentuk poligonal dengan dinding samping lurus. Epidermis bawah serupa dengan epidermis atas, pada pengamatan tangensial tampak berbentuk poligonal dengan dinding samping agak berombak. Pada kedua permukaan daun terdapat rambut penutup dan rambut kelenjar. Rambut pada epidermis atas lebih sedikit daripada epidermis bawah. rambut penutup terdiri dari satu sel bentuk kerucut pendek, ujung runcing, panjang 18 µm sampai 25 µm, dinding tebal, kutikula licin. Rambut kelenjar mempunyai kepala kelenjar bersel satu, bentuk bulat. Stomata tipe anomositik, panjang 25 µm sampai 35 µm terdapat banyak pada epidermis bawah, pada epidermis atas tidak ada stomata. Hipodermis terdapat pada kedua permukaan hipodermis atas umumnya terdiri dari dua lapis sel, hipodermis bawah umumnya satu lapis; sel hipodermis berbentuk persegi empat , besar, jernih, tersusun rapat; pda hipodrmis terdapat sel minyak berisi minyak atsiri berwarna kekuningan. Jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel, terletak dibawah hipodermis atas, mengandung banyak butir hijau daun, juga terdapat sel minyak seperti sel pada hipodermis terdapat banyak sel minyak berisi minyak atsiri berwarna kekuningan. Jaringan palisade terdiri dari 1 lapis sel, terletak dibawah hipodermis atas, mengandung banyak butir hijau daun, juga terdapat sel minyak seperti sel minyak pada hipodermis. Jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel, bentuk sel tidak beraturan, tersusun agak mendatar; sel minyak seperti pada palisade. Berkas pembuluh tipe kolateral, diantara jaringan floem terdapat sel minyak. Di atas berkas pembuluh pada tulang daun utama umumnya terdapat saluran sizogen; pada parenkim yang sederet dengan palisade terdapat banyak butir hijau daun; terdapat juga sel berisi hablur bentuk prisma yang tidak larut pada penambahan asam klorida pekat P.
Serbuk : warna hijau kecoklatan. Fragmen pengenal adalah fragmen permukaan daun bagian bawah, fragmen permukaan daun bagian atas, fragmen epidermis atas dan epidermis bawah, fragmen mesofil, fragmen pembuluh kayu.

Cara Identifikasi 

a. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat.
b. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P terjadi watna hijau.
c. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna coklat muda.
d. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes besi (III) klorida LP. Terjadi warna coklat muda

Uji Kemurnian 

Kadar abu : tidak lebih dari 14%
Kadar abu yang tidak larut dalam asam : tidak lebih dari 7%
Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 14%
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 4,5%
Bahan organik asing tidak lebih dari 2%

Kegunaan

Anti sariawan, anti batuk, adstrigen, antiseptik

Kandungan Senyawa

minyakatsiri mengandung hidroksi, kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol, terpinen, seskuiterpen, fenilpropan, tanin

Penulis

Erma Putri

Minggu, 22 Desember 2013

Klasifikasi, Deskripsi, dan Khasiat Daun Salam

 

I.       Klasifikasi
Kingdom               : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom          : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi           : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                    : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas              : Rosidae
Ordo                     : Myrtales
Famili                    : Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus                    : Syzygium
Spesies                  : Syzygium polyanthum Wigh Walp
Sinonim                 : Eugenia polyantha Wight
 
II.       Deskripsi/morfologi tanaman
   1).      Daun : berbentuk simpel, bangun daun jorong, pangkal daunnya tidak bertoreh dengan bentuk bangun bulat telur (ovatus), runcing pada ujung daun, pangkal daun tumpul (obtusus), terdapat tulang cabang dan urat daun, daun bertulang menyirip (penninervis), tepi daun rata (integer). Daun majemuk menyirip ganda (bipinnatus) dengan jumlah anak daun yang ganjil, daging daun seperti perkamen (perkamenteus), daunnya duduk, letak daun penumpu yang bebas terdapat di kanan kiri pangkal tangkai daun disebut daun penumpu bebas (stipulae liberae), tangkai daunnya menebal di pangkal dan ujung, beraroma wangi dan baru dapat digunakan bila sudah dikeringkan.
    2)      Batang : tinggi berkisar antara 5-12m, bercabang-cabang, biasanya tumbuh liar di hutan. Arah tumbuh batang tegak lurus (erectus), berkayu (lignosus) biasanya keras dan kuat, bentuk batangnya bulat (teres), permukaan batangnya beralur (sulcatus), cara percabangannya monopodial karena batang pokok selalu tampak jelas, arah tumbuh cabang tegak (fastigiatus) sebab sudut antar batang dan cabang amat kecil, termasuk dalam tumbuhan menahun atau tumbuhan keras karena dapat mencapai umur bertahun-tahun belum juga mati.
   3)      Akar : termasuk akar tunggang (radix primaria), berbentuk sebagai tombak (fusiformis) karena pangkalnya besar dan meruncing ke ujung dengan serabut-serabut akar sebagai percabangan atau biasa disebut akar tombak, sifatnya adalah akar tunjang karena menunjang batang dari bagian bawah ke segala arah.
 
III.    Kandungan Senyawa
Pada umumnya sering dijumpai daun salam digunakan sebagai obat sakit perut. Ternyata khasiat daun salam tidak hanya itu, melainkan juga dapat digunakan untuk menghentikan buang air besar yang berlebihan. Tidak hanya pada daunnya, namun pohon salam ini dapat dimanfaatkan mulai dari akar, kulit batang dan buah.
Terdapat beberapa kandungan yang ada didalam pohon salam antara lain minyak essensial, minyak atsiri, tanin dan flavonoid. Dengan kandungan tersebut maka pohon salam banyak dimanfaatkan dengan mengolahnya untuk mengobati berbagai macam penyakit antara lain melancarkan peredaran darah, mengatasi asam urat, kolesterol tinggi, radang lambung, diare, gatal-gatal, stroke, kencing manis.
 
IV.  Khasiat Farmakologi
Daun salam digunakan untuk pengobatan: Kolesterol tinggi, Kencing manis (Diabetes mellitus), Tekanan darah tinggi (Hipertensi), Radang lambung/maag (gastritis) dan Diare.
Beberapa manfaat daun salam untuk mengobati penyakit secara alami dapat kita peroleh dengan resep sebagai berikut:
- Daun salam sebagai obat sakit Diare. Sediakan 15 lembar daun salam lalu cuci hingga bersih. Rebus dengan 2 gelas air hingga mendidih, lalu tambahkan sedikit garam dan biarkan hingga dingin. Saring airnya dan minum.
- Daun salam untuk mengobati Kencing Manis / Diabetes Mellitus. Siapkan sekitar 7-15 lembar daun salam yang masih segar. Rebus dengan 3 gelas air hingga mendidih dan tunggu hingga air yang tersisa tinggal 1 gelas. Peras dan saring airnya, lalu minum 2x sehari tiap sebelum makan.
- Daun salam untuk obat sakit Asam Urat. Manfaat daun salam ini dapat Anda peroleh dengan menyediakan sekitar 10 lembar daun salam yang masih segar, lalu cuci hingga bersih, kemudian rebus menggunakan 4 gelas air dan tunggu hingga mendidih dan air yang tersisa tinggal 2 gelas. Saring airnya dan minum.
- Daun salam sebagai obat Sakit maag (gastritis). Siapkan sekitar 15-20 lembar daun salam yang masih segar, kemudian cuci hingga bersih dan rebus menggunakan 0,5 liter air hingga mendidih selama 15 menit. Setelah mendidih, beri gula enau secukupnya. Tunggu hingga agak dingin dan minum airnya. Anda dapat meminum ramuan ini setiap hari hingga maag Anda sembuh.
- Kudis, gatal. Daun atau kulit batang atau akar, dicuci bersih lalu digiling halus sampai menjadi adonan seperti bubur. Balurkan ketempat yang sakit.
Pohon salam mempunyai daun yang lebat, daun nya berbentuk lonjong. Kasiat daun salam sudah dipercaya sejak dulu oleh sebagian masyarakat. Dalam hal bumbu masakan, daun salam sering kali digunakan. Bila kita tidak mempunyai tanaman tersebut kita bisa membeli dipasar tradisional, banyak sekali dijual dipasar dengan harga yang sangat murah. Manfaat daun salam untuk mengobati penyakit seperti yang terdapat diatas biasanya bisa dilakukan secara tradisional seperti merebus beberapa lembar daun salam dengan takaran air tersediri hingga mendidih, setelah itu diminum hasil rebusan tersebut.

Sekian, semoga bermanfaat bagi anda..

Minggu, 24 November 2013

Klasifikasi dan Morfologi Phyllanthus niruri ( Meniran )




A. Klasifikasi
 Kingdom : Plantae
 Subkingdm : Tracheobionta
 Super Divisi : Spermatophyta
 Divisi : Magnoliophyta
 Kelas : Magnoliopsida
 Sub Kelas : Rosidae
 Ordo : Euphorbiales
 Famili : Euphorbiaceae
 Genus : Phyllanthus
 Spesies : Phyllanthus niruri L.

B. Morfologi
Meniran (Phyllanthus niruri) adalah tanaman semusim, tumbuh tegak, bercabang-cabang, dan tingginya antara 30cm-50cm.
1. Batang
Tanaman meniran (Phyllanthus niruri) ini memiliki batang yang berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50cm, berwarna hijau, diameternya ± 3 mm. 
2. Daun
Tanaman ini memiliki daun majemuk, tata letak daunnya berseling ( Deccussate ), bentuk daun bulat telur (ovale), ujung daunnya tumpul, pangkalnya membulat, memiliki tepi daun yang rata ( Entire ), memiliki anak daun 15-24, memiliki panjang ± 1,5 cm, lebar ± 7 mm, dan berwarna hijau. Daun meniran ini termasuk pada tipe daun yang tidak lengkap yaitu pada bagian daun bertangkai karena tanaman ini hanya memiliki tangkai dan beberapa heliaan daun. 
3. Bunga
Tanaman ini memiliki bunga tunggal yang terdapat pada ketiak daun menghadap ke arah bawah, menggantung dan berwarna putih. Memiliki daun kelopak yang berbentuk bintang, benang sari dan putik tidak terlihat jelas, mahkota bunga kecil dan berwarna putih.
4. Buah
Tanaman ini memiliki buah yang berbentuk kotak, bulat pipih dan licin, diameter  ± 2mm dan berwarna hijau.
5. Biji
Tanaman ini memiliki biji yang kecil, keras dan berbentuk ginjal serta berwarna coklat.
6. Akar
Tanaman ini memiliki akar tunggang yang berwarna putih.

C. Bagian Tanaman Yang Di gunakan Sebagai Obat
Bagian tanaman meniran yang bisa dimanfaatkan sebagai obat yaitu pada bagian akar (radix), batang ( , daun (folium), bunga (flos), aerial atau bagian herba.

D. Kandungan Kimia
Tanaman Obat Meniran sangat kaya akan berbagai kandungan kimia, antara lain: phyllanthin, hypophyllanthin, niranthin, nirtetrali, nirurin, nirurinetin, norsecurinine, phyllanthenol, phyllnirurin, phylltetrin, quercitrin, quercetin, ricinoleic acid, rutin, salicylic acid methyl ester, garlic acid, ascorbic acid, hinokinin, hydroxy niranthin, isolintetralin, dan isoquercetin.  
Senyawa lain yang terkandung dalam Meniran adalah beta-d-xylopyranoside dan beta-sitosteroy. Senyawa lain yang baru ditemukan adalah seco-4-hidroksilintetralin, seco-isoarisiresinol trimetil eter, hidroksinirantin, dibenzilbutirolakton, nirfilin, dan neolignan.
Akar dan daun Meniran kaya akan senyawa flavonoid, antara lain phyllanthin, hypophyllanthin, qeurcetrin,  isoquercetin, astragalin, dan rutin. Minyak bijinya mengandung beberapa asam lemak seperti asam ricinoleat, asam linoleat, dan asam linolenat.

E. Khasiat
Tanaman  ini memiliki beberapa khasiat atau manfaat sebagai obat yaitu sebagai berikut:
1. Antibakteri 
Ekstrak metanol daun Meniran mempunyai efek antibakteri paling tinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Escherichia colli, dan Pseudomonas aeruginosa. Efek ini disebabkan senyawa antibakteri pada Meniran seperti phyllanthin, hypophyllanthin, niranthin, dan nietetralin. Ekstrak petroleum eter dari batang, daun, dan akar Meniran juga menunjukkan efek antifungi. 
2. Pelarut asam urat dan batu ginjal
Tanaman meniran ini kaya akan kandungan senyawa flavonoid dan glikosida flavonoid yang dapat digunakan untuk mengobati asam urat dan batu ginjal. 
Meniran juga bersifat diuretik (membantu keluarnya air seni). Dengan cara tersebut, Meniran digunakan untuk mengatasi asam urat dan batu ginjal ataupun penyakit lain yang disebabkan oleh asam urat seperti rematik gout. 
3. Immunodulator 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Meniran dapat memodulasi sistem imun melalui proliferasi (penyebaran) dan aktivasi limfosit T dan B, apabila perlawanan sistem kekebalan alami kita tidak mencukupi. Limfosit T dan B bekerja menurut jenis serangan virus dan bakteri yang terjadi. Selain itu, Meniran juga berfungsi mengaktivasi sel fagositik seperti monosit dan makrofag yang bertugas memberikan potongan patogen (agen biologis penyebab penyakit) kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dikenali dan dibunuh. 
Karena bersifat immunomodulator, Meniran dapat digunakan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh terhadap bakteri, virus, dan mikroba penyebab penyakit sehingga dapat mencegah berbagai penyakit yang disebabkan bakteri, virus.
4. Antikanker 
Kemampuan Meniran sebagai immunostimulator membantu merangsang aktivitas sel natural killer (NK) dan sel killer (K). Jika toksisitas kedua sel tersebut meningkat, sel-sel yang mengalami mutasi dan abnormal (sel kanker) akan dihancurkan oleh keduanya.
5. Antidiabetes 
Kandungan senyawa aktif Phyllanthin dan hypophyllanthin merupakan komponen utama yang diduga berperan aktif dalam penurunan kadar gula darah.
6. Hepatoprotektor 
Kandungan senyawa aktif yang dimiliki oleh meniran yaitu senyawa antihepatotoksik seperti filantin, hipofilantin, triakontanal, dan trikontanol berfungsi dalam perbaikan organ liver.
Selain itu, senyawa phyllanthus dalam Meniran juga diketahui bekerja sebagai pelindung hati (hepatoprotektor) dengan cara menyabotase DNA polimerasi (enzim yang diperlukan virus hepatitis untuk bereplikasi / menggandakan diri). 
7. Hepatitis kronis 
Ekstrak Meniran dapat memodulasi sistem imun melalui proliferasi dan aktivasi limfosit T dan B. Sekresi TNF-α dan IFN-α pun meningkat.  
Efek akhirnya, indikasi kesembuhan hepatitis. Meniran mendorong mekanisme perbaikan sel-sel hati dengan cara meningkatkan jumlah enzim yang berperan sebagai antioksidan.
8. Antituberkulosis
Tanaman meniran bermanfaat juga dalam penyembuhan penyakit tuberculosis karena ekstrak meniran membantu meningkatkan kadar imunitas penderita TB dengan cara meningkatkan CD4 limfosit T dan rasio CD4/CD8 limfosit T.
9. Penyakit kulit 
Dengan mengkonsumsi Meniran juga berguna sebagai terapi tambahan penyakit kulit seperti lepra dan herpes zoster. Ekstrak Meniran bekerja dengan cara meningkatkan sistem imunitas seluler. Dengan kata lain, Meniran mendorong limfosit T makin aktif bekerja. Herpes zoster berkembang biak dengan leluasa saat sistem imunitas tubuh melemah.  
      F. Efek Samping
pemakaian berlebih dari Phyllanthi Herba dapat menyebabkan impoten, menjelaskan flavonoid yang terkandung dalam meniran memberikan efek menghambat kerja enzim xanthin oksidase sehingga dapat dimanfaatkan dalam pengobatan mengurangi kelebihan asam urat dan batu ginjal.


Sabtu, 28 September 2013

Rincian Simplisia Areceae Semen (Biji Pinang)

 

Nama Daerah :

Sumatra: pineng, pineung, pinang, batang mayang, batang bangkah, batang pinang, pining, boni.
Jawa: jambe, penang, wohan.
Kalimantan: gahat, gehat, kahat, taan, pinang.
Nusatenggara: buah jambe, bua, winu, pua, wenji, keu, ua, ehu, glok, wua, tilade.

Pemerian :

Bau lemah; rasa kelat dan agak pahit.

Pemeriksaan Makroskopik :

Biji keras, utuh atau berupa irisan. Biji utuh berbentuk kerucut pendek dengan ujung membulat, jarang berbentuk hampir setengah bulatan, bagian pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal, panjang 15 mm sampai 30 mm, kemerahan, agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda; pada pangkal biji sering terdapat bagian-bagian dari kulit buah, warna putih. Pada bidang irisan biji tampak perisperm berwarna coklat tua dengan lipatan-lipatan tidak beraturan menembus endosperm yang berwarna agak keputih-putihan.

Pemeriksaan Mikroskopik :

Pada penampang melintang biji tampak selapis sel perikarp atau kulit biji, berpigmen. Endokarp terdiri dari beberapa lais sel, berdinding tebal, tampak seperti sel batu bila terpotong paradermal. Mesokarp terdiri dari jaringan parenkim berdinding tipis dan serabut dengan lumen lebar mesokarp. Endosperm terdiri dari sel-sel berdinding tebal, mempunyai saluran noktah dan berisi butir-butir aleuron.
Serbuk: berwarna coklat. Fragmen pengenal adalah endosperm dengan saluran noktah; mesokarp; endosperm dengan saluran noktah; mesokarp; endosperm tanpa saluran noktah; fragmen perikarp dengan pigmen; serabut yang terdapat pada mesokarp dengan butir-butir silica; fragmen perikarp terpotong melintang dan longitudinal berpigmen; fragmen bagian dalam perikarp terpotong paradermal, tampak endokarp dan mesokarp.

Cara Identifikasi :

  • Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat merah.
  • Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes asam sulfat 10 N; terjadi warnacoklat muda.
  • Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5% b/v dalam etanol P; terjadi warna coklat muda.
  • Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes ammonia (25%) P; terjadi warna merah jingga.
  • Pada 2 mg serbuk biji tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v; terjadi warna kuning kehijauan.

Uji Kemurnian :

Kadar abu. Tidak lebih dari 2%.
Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 1%.
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 30%.
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 40%.
Bahan organic asing. Tidak lebih dari 2%.

Kegunaan :

Memperkecil pupil mata, obat cacing (antelmintik).

Kandungan Senyawa :

Arekolin, arekaidin, guvasin, guvakolin, isoguvasin, gula, resin.

Referensi :

Materia Medika Indonesia V, hal 55-58, thn 1989, Depkes RI



Rincian Simplisia Andrographidis Herba (Herba Sambiloto)


Nama Daerah :

Sumatera : pepaitan (Melayu).
Jawa : ki oray, ki peurat, takilo (Sunda), bidara, sadilata, sambilata, takila.

Pemerian :

Tidak berbau, rasa pahit.

Pemeriksaan Makroskopik :

Batang tidak berambut, tebal 2 mm sampai 6 mm, jelas persegi empat, batang bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, bentuk lanset samapi bentuk lidah tombak, panjang 2 cm samapi 7 cm, labar 1 cm sampai 3 cm, rapuh, tipis, tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing, tepi daun rata. Permukaan atas berwarna hijau tua atau hijau kecoklatan, permukaan bawah berwarna hijau pucat. Tangkai daun pendek. Kelopak bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak, panjang 3 mm sampai 4 mm, berambut. Daun mahkota berwarna putih sampai keunguan. Buah berbentuk jorong, pangkal dan ujung tajam, panjang lebih kurang 2 cm, lebar lebih kurang 4 mm, kadang-kadang pecah secara membujur menjadi 4 keping. Permukaan luar kulit buah berwarna hijau tua sampai hijau kecoklatan, permukaan dalam berwarna putih atau utih kelabu. Biji agak keras, panjang 1,5 mm sampai 3 mm, lebar lebih kurang 2 mm, permukaan luar berwarna coklat muda bertonjol-tonjol. Pada penampang melintang biji terlihat endosperm berwarna kuning kecoklatan, lembaga berwarna putih kekuningan.

Pemeriksaan Mikroskopik :

Daun : epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel berbentuk segi empat, kutikula tipis, pada penampang tangensial tampak berbentuk polygonal, dinding sampai lurus, tidak terdpat stomata. Pada lapisan epidermis terdapat banyak sel litosis yang berisi sistolit, sistolit banyak mengandung kalsium karbonat. Sel litosis umumnya lebih besar dari pada sel epidermis, bentuk jorong atau bulat telur dengan permukaan bertonjolan hingga mirip rangkaian buah anggur, panjang 60 µm sampai 150 µm, lebar 30 µm sampai 80 µm. Rambut kelenjar banyak, terletak agak tenggelam di lapisan epidermis, sel pangkal kecil dan bersel satu, kepala kelenjar terdiri dari beberapa sel, garis tengah kepala kelenjar 40 µm sampai 65 µm, tinggi 15 µm sampai 25 µm. Rambut penutup sangat sedikit, umumnya terdapat di epidermis atas pada tulang daun, bentuk kerucut berujung tumpul, bersel 2, dinding tipis, berukuran panjang 30 µm sampai 125 µm. Sel epidermis bawah lebih kecil dari sel epidermis atas, pada penampang tangensial tampak dinding samping bergelombang. Stomata sangat banyak, tipe bidiasitik dan diasitik, umumnya bidiasitik. Rambut kelenjar dan litosis lebih banyak terdapat di epidermis bawah dari pada di epidermis atas. Jaringan palisade umumnya terdiri dari 1 lapis sel, jarang yang 2 lapis. Jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel bungakarang, tersusun renggang dengan rongga udara yang besar, diantara sel bungakarang terdapat juga sel litosis serupa dengan yang terdapat di epidermis. Berkas pembuluh tipe bikolateral.
Batang : epidermis terdiri dari 1 lapis sel yang terentang tangensial, pada penmapang tangensial terlihat berbentuk segi empat panjang, dinding samping lurus, kutikula agak tebal; pada epidermis terdapat rambut kelenjar dan litosis seperti yang terdapat pada epidermis daun. Jaringan kolenkim terdapat dibawah epidermis, terutama pada sudut batang. Parenkim korteks terdiri dari beberapa lapis sel. Serabut perisikel berdinding tebal, agak berlignin, lumen sempit. Floem sekunder sedikit. Sebagian besar xilem sekunder terdiri dari serabut kayu; pembuluh kayu bernoktah dan pembuluh kayu berpenebalan tangga tersebar. Empulur terdiri dari sel besar berbentuk polygonal, dinding bernoktah, sel empulur berisi hablur kalsium oksalat berbentuk jarum, panjang hablur 15 µm samapi 50 µm. Kelopak bunga : pada epidermis luar terdapat rambut penutup dan rambut kelenjar. Rambut penutup umumnya terdiri dari 1 sel, kadang-kadang bersel 2, bentuk kerucut, panjang 40 µm samapi 175 µm, dinding tebal, kutikula bergaris-garis. Rambut kelenjar terdapat 2 tipe, tipe pertama serupa dengan rambut kelenjar pada daun tipe kedua mempunyai tangkai kelenjar bersel 3 sampai 5 dan kepala kelenjar berbentuk serupa mangkok bersel banyak. Kulit buah : epidermis luar terdiri dari sel pipih berbentuk polygonal memanjang atau serupa serabut pendek berdinding agak tebal, kutikula tebal bergaris; pada epidermis terdapat stomata serupa stomata pada daun, juga terdapat rambut kelenjar dengan tangkai panjang bersel banyak serupa rambut kelenjar tipa kedua pada kelopak bunga; di bawah epidermis terdapat jaringan berisi zat berwarna coklat kekuningan. Epidermis dalam tediri dari 1 lapis sel pipih, dinding tebal, bernoktah. Mesokrap terutama terdiri dari serabut sklerenkim berdinding tebal, bernoktah dan berlignin. Didaerah sekat mesokrap terdiri dari parenkim bernoktah dan sel batu dengan lumen besar, dinding tebal, noktah jelas, berlignin.
Biji : kulit biji tediri dari 1 lapis sel, pipih berpapila pendek, dinding tipis, kutikula tipis. Endosperm terdiri dari sel berbentuk bulat panjang, dinding tebal tidak berlignin, tidak berwarna, umumnya tersusun radial, sel penuh berisi butir-butir minyak dan aleuron. Embrio selnya lebih kecil dari sel endosperm, dinding tipis, berisi butir-butir minyak.
Serbuk : warna hijau kelabu, rasa sangat pahit. Fragmen pengenal adalah fragmen epidermis atas dan epidermis bawah dengan litosis; fragmen mesofil daun, rambut kelenjar dari kelopak bunga, rambut penutup kelopak bunga, sel batu dari kulit buah, epidermis kulit buah dengan stomata, berkas pembuluh, sistolit yang lepas dari sel, fragmen serabut kulit buah; fragmen endosperm dari biji, fragmen empulur batang, hablur kalsium oksalat berbentuk jarum jarang kelihatan.

Cara Identifikasi :

  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat tua.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P; terjadi warna coklat.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5 % b/v; terjadi warna hijau kekuningan.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan kalium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna hijau kekuningan.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes ammonia (25%) P; terjadi warna hijau kekuningan.
  • Pada 2 mg serbuk herba tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v; terjadi warna hijau.

Uji Kemurnian :

Kadar abu tidak lebih dari 12 %.
Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari 2,2 %.
Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 18 %.
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 9,7 %.
Bahan organic asing tidak lebih dari 2 %.

Kegunaan :

Diuretik, antipiretik.

Kandungan Senyawa :

Asam kersik, damar logam alkali.

Referensi :

Materia Medika Indonesia III, hal 20-25, thn 1979, Depkes RI.

Rincian Simplisia Psidii folium (Daun Jambu BIji)


Nama Daerah :

Sumatra : Glima breueh ( Aceh), galiman (Batak), Masiambu (Nias)
Jawa : Jambu klutuk (Sunda), Jambu bigi (Madura)
Nusa Tenggara : Sotong (Bali)
Maluku : Kayawase, Lutu hatu, Jambu rutuno

Pemerian :

bau khas aromatik; rasa kelat

Pemeriksaan Makroskopik :

Daun tunggal, bertangkai pendek, panjang tangkai daun 0,5 sampai 1 cm; helai daun berbentuk beundar telur agak menjorong atau bulat memanjang, panjang 5 cm sampai 13 cm, lebar 3 cm sampai 6cm; pinggir daun rata agak menggulung ke atas; permukaan atas agak licin, warna hijau kelabu; kelenjar minyak tampak sebagai bintik-bintik berwarna gelap dan bila daun direndam tampak sebagai bintk-bintik yang tembus cahaya; ibu tulang daun dan tulang cabang menonjol pada permukaan bawah, bertulang (berpenulangan) menyirip, warna putih kehijauan

Pemeriksaan Mikroskopik :

Epidermis atas : terdiri dari 1 lapis sel, pipih, terentang tangensial, bentuk poligonal, dinding antiklinal lurus, tidak terdapat stomata. Epidermis bawah: sel lebih kecil, pipih, terentang tangensial, bentuk poligonal, dinding antiklinal lurus. Stomata : tipe anisolitik , banyak terdapat pada permukaan bawah. rambut penutup : terdapat pada kedua permukaan, lebih banyak pada permukaan bawah, bentuk kerucut ramping yang umumnya agak bengkok, terdiri dari 1 sel, berdinding tebal, jernih, panjang rambut 150 µm sampai 300 µm, pangkal rambut kadang-kadang agak membengkok, lumen kadang-kadang mengandung zat berwarna kuning kecoklatan. Jaringan air : terdapat di bawah epidermis atas, terdiri 2 sampai 3 lapis sel yang besar. Jernih dan tersusun rapat tanpa ruang antar sel. Idioblas : terdapat di beberapa tempat, berisi hablur kalsium oksalat berbentuk roset yang besar dan bentuk prisma. Kelenjar minyak : rongga minyak bentuk lisigen besar, terdapat lebih banyak di bagian bawah daripada di bagian atas. Jaringan palisade : terdiri dari 5 sampai 6 lapis sel, terletak dibawah jaringan air, 2 lapis sel yang pertama lebih besar dan mengandung lebih banyak zat hijau daun, lapisan-lapisan berukutnya beongga lebih banyak.
Serbuk warna hijau ke abu-abuan. Fragmen pengenal banyak terdapat rambut penutup yang terlepas; hablur kalsium oksalat; stomata tipe anomositik; mesofil dengan kelenjar lisigen.

Cara Identifikasi :

a. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna coklat tua.
b. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat 10N; terjadi warna kuning kehijauan.
c. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P terjadi warna kuning kehijauan.
d. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes larutan kalium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna coklat kemerahan.
e. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes amonia (25%) P; terjadi warna kuning kehijauan.
f. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v ; terjadi warna merah

Uji Kemurnian :

Kadar abu : tidak lebih dari 4,5%
Kadar abu yang tidak larut dalam asam : tidak lebih dari 19%
Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 18%
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 2%
Bahan organik asing tidak lebih dari 2%

Kegunaan :

Antidiare

Kandungan Senyawa :

Tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak, asam malat