Tampilkan postingan dengan label Refleksi Ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Ngaji. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

Kumpulan Tausiyah atau Mutiara Hikmah para Kiai

1. KH. sholih Qosim Sidoarjo
download[4]
2. Habib Umar Al Muthohar, ketika acara haul malam 21 ramadhan 1434H, di Ponpes mambaus sholihin gresik.
download[4]
3. KH. Anwar Zahid, Bojonegoro, ketika acara di Bungurasih surabaya.
download[4]

Jumat, 01 November 2013

KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi, Mutiara Hikmah

KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy, putra KH. M. Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Untuk mendengarkan kembali ceramah beliau bisa di download dulu dibawah ini :
5.     Halal Bi Halal
6.     Iman
7.     Hikmah Dzikir

KH.A.Musthofa Bisri Puisi dan Nasihat

Karya dan Dedikasi Gus Mus

Puisi Gus Mus

KH. Achmad Musthofa Bisri, (Gus Mus) kini Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin Leteh Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Belajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, dan Universitas Al-Azhar Kairo, disamping di pesantren ayahnya sendiri, Raudlatuth Tholibin Rembang. Disamping budayawan, beliau juga dikenal sebagai penyair. Berikut ini ada beberapa karya KH. A. Musthofa Bisri
1.     Sujud
2.     La Ilahaillah 
6.     Basrah
7.     Dzikir Malam
8.     Gelombang gelap
9.     Idul fitri
10.  Lirboyo

Mutiara Hikmah Nashoihul Ibad, Kajian Bersama KH. A. Musthofa Bisri

Disamping budayawan, beliau juga dikenal sebagai penyair.berikut ini ada beberapa file kajian Nashoihul Ibad yang saya dapatkan dari Ahmarembang.com  izin buat ikut menyebarkan link downloadnya:
7.     Kajian Nashoihul Ibad 7


Jumat, 25 Oktober 2013

Kalam Hikmah

Dalam suatu kesempatan Sayyidina Ali R.A. pernah berfatwa,

"Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas iman. Iman hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu' namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat, rendah hati bagai sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis tapi kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ada pelacur tampil jadi figur.

Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham tapi tidak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tak tahu diri.

Ada orang beragama tapi tidak berakhlak, ada yang berakhlak
tapi tidak bertuhan.

Lalu diantara semua itu dimana aku berada....?"


Menghilangkan Aku Menghadirkan Tuhan

Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.
Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?
Adalah Muhammad Bagir MA, dosen filsafat dan tasawuf pada Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, yang menjadi salah satu garda depan, dari pihak yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio). Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan), akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness : hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia. Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai. Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan dosen kelahiran Singapuradan lulusan Universitas Qum Teheran tersebut.

Menurut Mas Bagir, bagaimana tasawuf bisa menjelaskan, bahwa ketika berada di jalan Tuhan, maka kita bisa menyelesaikan masalah dunia (kemanusiaan)?
Kita lihat dalam Kristen dulu ya. Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam kan teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak “mendaging” dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan).
Apa kaitannya dengan individualisme?
Semua suffering, masalah dunia di hidup kita kan karena individualitas kita. Karena kita mengakui “aku”, dalam Buddhism kan gitu juga. Kalau aku-nya hilang, ya nggak akan ada masalah. Misalnya kalau kita bawa dalam preposisi: ada subjek ada predikat. Predikat bisa gembira, sedih, aku sedih, aku gembira, aku stress. Coba kalau subjek (aku)-nya hilang, nggak ada apa-apa lagi kan? Kita boleh saja sedih, sakit, tetapi karena “aku” tak ada, maka tak ada yang merasakan segala kesakitan itu.

Nah disini bedanya ilmu akhlak dan metafisik. Misalnya, akhlak takabur. Dalam ilmu akhlak dijelaskan, definisi takabur itu apa, efek yang akan merusak jiwa kita gimana? Jadi kita harus gantikan pada predikat yang positif. Disini ilmu akhlak lebih konsentrasi pada predikat. Tapi selagi ada subjek, tetap ada predikat kan? Sementara irfan dan tasawuf konsentrasi pada subjek. Hilangkan subjek dong. Ketika subjek hilang, Subjek dengan “S” besar muncul. Aku (Ana) yang besar, maka predikat-predikatnya muncul kan, Asmaul husna. Itu namanya tajalli. Dengan cara itu manusia selamat dari segala kesengsaraan dalam kehidupan individualisnya.

Bagaimana cara untuk menghilangkan “aku”?
Harus ada ilmu. Ilmu yang selama ini kita pelajari ada dua macam. Ada accumulatif knowledge, ada yang annihilatif knowledge. Accumulatif itu kan akumulasi. Kita semakin banyak mencari ilmu. Ketika terjadi akumulasi, maka harus ada subjek, dan subjek ini mengakumulasi knowledge. Aku ‘alim, aku mengetahui, aku lebih pintar. Tetapi annihilation, nihilasi (fana’), ilmu yang menghilangkan subjek. Misalnya, laa ilaahaillallah, tiada Tuhan selain Allah. Kenapa? Karena Dia mutlak. Sesuatu yang mutlak, jelas tidak terbatas. Sesuatu yang tidak terbatas, tidak mengizinkan dua realitas. Ketika dia terbatas, pasti ada yang lain. Jadi konsep tauhid juga berkata seperti itu. Tidak ada realitas, selain Dia menghilang semuanya. Kalau hilang subjek ya sudah. Kita akan melihat seluruh alam ini dengan kaca mata Dia, bukan kaca mata individualis lagi. Jadi kalau ada masalah, kita kan sering lari darinya, dan masuk masalah lain. Yang harus kita lakukan seharusnya beyond, melampaui. Apa yang bisa bawa kita keluar dari masalah.

Karena masyarakat modern kan, kalau ingin menyelesaikan masalah ekonomi ya dengan ekonomi, politik dengan politik, dsb. Nah kalau pendekatan spiritual, misalnya kalau kita menghadapi masalah politik, yang kita lakukan adalah “penghancuran kedalam” ya?
Ya, karena kalau sudah hancur aku-nya, yang muncul kan tajalli-nya Allah. Contoh, Banyak teman-teman yang tanya sama saya, “Saya takut mau suluk”. Kenapa? “Kalau saya suluk, mungkin saya akan tinggalkan dunia ini”. Seorang istri akan bimbang kalau suaminya tinggalkan dia, tidak perdulikan nafkah, anak-anak.

Seolah-olah Tuhan itu di barat, dan dunia di timur ya. Kalau ke barat ya harus ninggalin timur?

Makanya saya terus bilang, “Bu, kalau orang suluk, dia akan hilang egonya, individualnya, ananiyah-nya. Yang akan tajalli itu Tuhan. Ketika Tuhan tajalli, Tuhan al-’alim, Tuhan al-raziq, Tuhan arrahman. Lalu ibu akan berinteraksi dengan siapa? Jadi suami ibu nggak ada, yang ada hanya Yang Pengasih dan Penyayang. Pasti dia al-raziq. Ketika dia kerja, kasih uang, dia sebagai al-raziq, bukan sebagai manusia yang memberi nafkah pada isteri. Nah banyak orang melupakan hal ini. Ketika manusia menyatu dengan Tuhan, orang pikir kalau kita mau suluk, kita akan tinggalkan semuanya. Padahal dalam al-Qur’an Allah itu kan wahuwa ma’akum, Dia bersama dengan kalian, ainamaa kuntum, dimana saja kalian berada. Jadi kalau kita menjadi manifestasi Tuhan, kita bukan hanya dengan keluarga, kita bersama dengan semua manusia, pohon, alam, dsb. Contoh. Nabi Muhammad SAW. sampai sekarang hadir bersama kita. Nabi Muhammad saw. bukan keberadaan temporal. Sampai sekarang ia bersama kita. Assalamu’alaika ayyuhan Nabi. Jadi bukan terputus dari kehidupan, justru semakin terkait dengan kehidupan.

Nah, ada juga problem Mas. Masyarakat kan sering memisahkan akal dengan hati. Artinya, mungkin bisa dijelaskan perbedaan fungsional antara reason (rasio) dengan intelek (qalbu)?
Kalau reason, kan berada di wilayah ilmu hushuli, konseptual. Padahal ilmu konseptual sebenarnya produksi manusia sendiri. Tapi kalau intelek itu ilmu hudhuri, dimana subjek dan objek tidak terpisah. Antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak pernah terpisah. Dia menyatu. Seperti, saya sadar dengan diri saya sendiri. Aku tahu aku. Aku subjek, aku juga objek kan. Demikian juga, aku lapar. Lapar itu satu objek pengetahuan, kita tahu. Subjek ilmu, saya kan. Tapi lapar bukan berada diluar saya, tetapi didalam diri saya sendiri. Bukan identitas saya juga, tetapi sebagian dari aspek saya.

Kalau Maulana Rumi menceritakan perbedaan itu. Diceritakan ada kompetisi melukis, menggambar taman bunga. Satu group minta kanvas, kuas, dan cat yang paling bagus. Sementara group lain hanya minta cermin. Setelah jadi dilihat, oh ini lukisannya bagus, lukisan di kanvas, persis seperti taman, tapi cuma satu dimensi saja. Sementara cermin kan refleksi, oh ini persis sekali. Nah, kalau filsuf itu melukis realitas, dengan konsep, ide dan pemahamannya. Kalau seorang ‘arif, realitas dimasukkan dalam hatinya, cermin itu qalbu-nya. Realitasnya ada didalam cermin, jadi tidak terpisah dari dia. Makanya dalam hadist, “Bumi tidak bisa menempatkan Aku, langit juga tidak bisa, kecuali qalbu mu’min”. Nah dimana kita menempatkan Tuhan yang tidak terbatas? Dengan merefleksikan Dia tentunya.

Cermin itu didalam manusia?

Qalbu itu cermin. Allah ada disitu. Qalbu kan divine, bukan human. Gimana qalbu bisa menempatkan Tuhan yang tidak terbatas, kecuali kalau qalbu itu sendiri adalah Tuhan. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, maksudnya ya Tuhan yang mengenal diri-Nya sendiri. Nggak mungkin manusia kenal Tuhan. Jadi Tuhan itu mengenal diri-Nya sendiri.
Intelek seperti itu. Kalau ilmu hushuli kan konsep, melukis realitas. Kalau ilmu hudhuri, kita masukkan realitas dalam hati. Kalau kita melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Nabi melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Jadi Nabi setiap ada permasalahan selalu bertanya kepada Allah, itu bahasa teologisnya. Tetapi sebenarnya, Aku adalah Dia. Jadi bukan politik humanis lagi, tapi politik divine. Disini filsafat perennial, tasawuf, atau irfan, mau menghidupkan divinity (ketuhanan) dalam diri manusia. Ketika Tuhan hadir, kan alaa bi dzikrillahi tathmainnul qulub. Salah satu nama Tuhanpun al-Mu’min, Yang Memberi Keamanan. Jadi ketika Dia hadir, Dia akan memberi keamanan pada semunya. Kan ada hadist, al-mu’min miratul mu’min (mukmin adalah cermin bagi mukmin). Disini yang bercermin bukan antara dua manusia mukmin, tetapi antara mukmin manusia dengan al-Mukmin (Tuhan).

Di Paramadina saya pernah ditanya, “Tuhan dengan manusia kan beda?” Saya jelaskan, dalam al-Qur’an ada ayat tentang Nabi Muhammad, innama ana basyarun mistlukum (Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian). Saya bertanya pada Bapak itu, “Pak, disini jelas bahwa Muhammad itu seperti manusia, seperti kalian, mistlukum. Seperti, jadi sebenarnya bukan persis manusia. Lalu kalau begitu, Muhammad itu apa?”
Maksudnya?

Tuhan mau menyelamatkan manusia di bumi ini. Tetapi kalau Tuhan menurunkan manusia, sama kan, kualitas, karakter. Jadi nggak bakal selamat. Maka yang harus membimbing manusia itu harus Aku, kata Tuhan. Makanya Aku akan jadikan manusia, khalifah:
cermin Aku sendiri. Jadi Tuhan, mau membimbing manusia tanpa meninggalkan langit, caranya bagaimana? Bahasa simbolisnya kan. Kalau Tuhan turun, langit kosong dong. Kan di al-Qur’an, fi al-samaai Ilaahun fi al-ardli Ilaahun (di langit Tuhan, di bumi Tuhan). Satu cara untuk Tuhan turun ke bumi, tanpa meninggalkan langit itu, taruh cermin dibawah, namanya khalifatullah. Dia sendiri yang datang. Al-Haadi, Yang Memberi Petunjuk.

Cara atau metodologi dalam kedua ilmu yang berbeda itu seperti apa Mas? Al-Ghazali berkata, bahwa pencarian kebenaran tidak hanya melalui rasio, tetapi juga eksperimental ruhaniyah. Apakah seperti itu?

Mereka yang belum menyadari kehadiran intelek, paling tidak memiliki panca indera, dan rasio. Indera kita gunakan untuk melihat, afalaa tadabbarun, kamu lihat langit dan bumi, dan kamu kontemplasi. Rasio untuk berpikir. Sementara proses pemikiran kan berada dibawah bimbingan wahyu, dari Dia juga. Jadi tidak terputus dari Tuhan. Nah kita gunakan semua ini, untuk diarahkan pada kesadaranintelektus tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.
Pertama, kita harus menempatkan diri kita dalam ruang agama. Tidak mungkin diluar agama. Sekarang di Barat ada yang nggak pakai agama, spiritual universal. Kata mereka, kalau sudah terikat oleh agama, maka tidak universal lagi. Padahal kalau kita terikat pada satu agama, kita makin universal. Karena tidak mungkin ada universal tanpa partikular. Contoh. Orang bilang kalau sudah ada batin, nggak butuh dhahir lagi. Bisa nggak saya bilang, saya kenal atas, tapi bawah saya nggak tahu? Nggak bisa kan. Kenal atas karena kenal bawah. Dhahir itu ada, karena ada batin kan, demikian sebaliknya. Nah, dalam agama ada jalan esoteris, jalan yang menghubungan manusia dengan al-Haq. Manusia harus ikut jalan itu. Itu syarat yang berada diluar diri manusia.
Kedua, cara yang ada dalam diri manusia. Yakni himmah (aspirasi yang tinggi). Kata Syeh Ahmad Mustafa al-Alawy, dalam buku Sufi Abad ke-20 (Mizan), syarat minimal jika manusia ingin menuju Tuhan adalah himmah, aspirasi yang tinggi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Misal, dalam satu tempat yang gelap, maka satu lubang cahaya yang dikit saja, itu sudah cukup. Kalau nggak ada lubang, semua tertutup, kita nggak bisa melampaui ruang yang gelap.

Kata Hadist Qudsy, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta”.

Ya. Ketika ada aspirasi baru ada respon, Jadi adzkuruunii adzkurukum, jika kau mengingat Aku, maka Aku pun mengingatmu. Setelah himmah, maka harus ada iman. Iman kepada agama. Agama terbentuk dari wahyu, dan wahyu sebenarnya manifestasi dari Dia, jadi iman kepada Dia sebenarnya. Ini yang subjektif, himmah dan iman. Sementara yang objektif tadi, agama dan jalan dalam agama. Seorang sufiberkata, “Dari Tuhan kepada manusia ada jalannya. Tapi dari manusia ke Tuhan, nggak ada jalannya”. Jadi kalau ada orang tenggelam, yang melempar tali itu siapa? Orang yang dikapal atau yang tenggelam? Jadi jalan dari kapal ke laut ada, tapi kalau sebaliknya tidak ada. Oleh karena itu syariat dari Tuhan, bukan manusia yang membuat syariat. Jalan thariqah pun harus dari Tuhan. Karena kita kan berada di luar, mau kedalam. Apa kita buat jalan sendiri? Nggak mungkin. Itu yang saya maksudkan, agama harus ada “jalan kedalam”, dari batin agama itu sendiri.

Kamis, 24 Oktober 2013

Nalar Politik Aswaja

A) Membaca Kembali Nalar Politik Aswaja: (Studi Kritis Atas Nalar Politik Kiai Di Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur)
B) Latar Belakang
Dewasa ini pembicaraan tentang wacana politik sudah mulai mengalami penurunan selera,walaupun realitas praktis perpolitikan di Indonesia masih tetap mewarnai negara. Dengan kata lain Asumsi negatif tentang kontestasi politik di Indonesia, telah mengendap dan terpatri dalam memori masyarakat, sehingga masyarakat kerapkali lesu membicarakan wacana politik. Mereka berasumsi bahwa politik adalah sesuatu yang kotor,yang hanya berorientasi pada perebutan kekuasaan, intrik mengintrik,dan menghalalakan segala cara. Asumsi di atas secara sepintas bisa kita benarkan, karena pada realitasnya para kontestan politik kerap kali menggunakan kekuasaannya untuk mendominasi kepentingan dirinya dan golongan, menindas rakyat kecil, mencari kesalahan orang lain dan menggantinya dengan kesalahan baru, mengumbar janji janji utopis, dan pura pura mengayomi masyarakat demi melanggengkan kekuasaannya. Kenyataan ini memang kerap kali dirasakan oleh masyarakat kita, sehingga mereka tidak percaya lagi pada politik dan para pelaku politik, termasuk juga prilaku politik Kiai. Klaim masyarakat tersebut bersifat general berlaku pada setiap tindakan atau prilaku politik, karena memang politik dianggap sebagai sesuatu alat yang mampu menghipnotis para pelakunya untuk melanggengkan kekuasaannya.
Kiai yang terjun ke politik, menurut klaim masyarakat berarti dia ingin bermain main dengan kekuasaan, memenuhi kepentingan dirinya dan golongan bukan lagi kepentingan umat. Berangkat dari klaim terbut, sehingga kerap kali masyarakat tidak percaya pada Kiai yang terjun dalam politik praktis. Ketidak percayaan itu juga bisa dibenarkan karena pada realitasnya para Kiai yang berpolitik acap kali dikendalikan dan digerakkan oleh para “pembisik politik” untuk gandrung terhadap perebutan kekuasaan, tanpa memikirkan target,tujuan dan dampaknya pada masyarakat secara makro, untuk itu menurut sebagian masyarakat hendaknya Kiai tidak usah kepanggung politik,berkonsentrasilah kepada santri dan pesantrennya.
Potret realitas perpolitikan diatas, menggelisahkan peneliti secara akademik untuk melakukan riset dan kajian secara radikal kritis, terhadap kreasi politik bangsaini. Kegelisahan tersebut bermuara pada semakin maraknya kreasi dan keterlibatan kaum santri (Kiai) di pentas percaturan politik, bahkan saat ini para Kiai bersatu,dan sebagai deklarator dalam berkibarnya satu berdera politik,di tengah realitas politik yang semakin kacau, penderitaan bangsa Indonesia yang semakin menggurita dan ketidak percayaan masyarakat terhadap politisi termasuk juga Kiai yang berpolitik. Integritas politik Kiai diatas, dapat dilihat pada tujuh belas Kiai karismatik sebagai deklarator sebuah bendera politik, diantaranya adalah: K.H.Abdullah Faqih Langitan, K.H. Ma’ruf Amin, K.H Abdurrochman Chudlori, K.H. Achmad Sufyan Miftahul Arifin, K.H. Idris Marzuqi Lirboyo, K.H. Ahmad Warson Munawir, K.H Muhaimin Gunardo,K.H Abdullah Sahal, K.H.Sholeh Qosim, K.H Nurul Huda Jazuli, K.H Chasbullah Badawi, K.H Abdul Adzim Abdullah Suhaimi,MA, K.H. Mas Muhammad Subadar, K.H.A.Humaidi Dahlan,Lc, K.H.M.Thahir Syarkawi, Habib Hamid Bin Hud Al-Atthos, K.H Aniq Muhammadun
1. Berdasar kegelisahan akademik inilah, peneliti ingin membaca kembali nalar politik Ahlus Sunnah Wal Jama’ah(Aswaja) yang telah di interpretasikan, di ramu, dikembangkan dan dijadikan sebuah Asas partai politik oleh para Kiai, sehingga dapat menemukan hasrat dibalik nalar politik Kiai. Sasaran penelitian ini adalah para Kiai karismatik yang mayoritas memiliki pesantern,dan secara cultural memiliik basis massa. Oleh karena banyakannya para Kiai karismatik, maka akan di fokuskan pada Kiai “tapal kuda”.
2. Jawa Timur. Agar pembacaan ini tidak bersifat justifikasi, maka akan di gunakan pisau analisis yang terdiri dari sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, dan teori “agen” Antonny Giddens.

C) Rumusan Masalah.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.   Bagaimana pembacaan atas nalar politik Kiai yang menjadikan Aswaja sebagai landasan politik di kawasan tapal kuda Jawa Timur.
2.   Bagaimana epistemolog nalar politik Aswaja
3.   Bagaimana hasrat dan konstruk nalar politik Kiai di kawasan “tapal kuda

D) Pembatasan Masalah

Ada dua batas atau ruang lingkup kajian dalam penelitian ini: a) secara konseptual teoritis,Masalah yang menjadi bidikan dalam penelitian ini adalah nalar politik Kiai yang berpijak pada nalar politik Aswaja. b) secara wilayah praktis, akan dibatasi pada nalar politik Kiai di kawasan tapal kuda yang memiliki karisma tinggi dan basiss masa secara cultural. Diantaranya adalah K.H Mas Subadar, (Pasuruan) K.H Abd. Haq Zaini,(Paiton probolinggo) K.H Ahmad Sufyan Miftahul Arifin,(Panji Situbondo), K.H Amin Said (Bondowoso), K.H. Hamid Hasbullah (Jember), R.K.H.Husni Zuhri (Banyuputih,Lumajang) dengan demikian, selain nalar politik Kiai yang telah disebut diatas yang berpijak pada Aswaja, bukan menjadi wilayah penelitian ini.

E) Signifikansi Penelitian

Berpijak pada latar belakang,rumusan masalah,dan pembatasan masalah diatas, kontribusi keilmuan yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: pertama, memberikan cakrawala baru dalam proses interpretasi atau pembacaan terhadap wacana politik,secara teorits dan praktis. Kedua, menambah pengetahuan tentang nalar politik Aswaja,
secara histories kontekstual, yang saat ini Aswaja hanya di pahami sebagai madhhab teologis.
Ketiga, menggugah militansi dan integrasi kaum santri dalam berpolitik dengan membumikan nilai nilai Aswaja sebagai manhaj al siyasi. Kempat, memberikan potret,dan pemahan baru tentang Kiai sebagai agent politik,tentunya dengan teori agen Giddens. Kelima,Menggugah masyarakat Indonesia khususnya kaum santri untuk melakukan perubahan social,tentunya dengan menerapkan konsep neo-politik Aswaja,yang akan dirumuskan dalam penelitian ini.

F) Kajian Riset Sebelumnya

Kajian tentang politik Kiai memang bukanlah hal yang baru,melainkan sebuah kajian yang kerapkali dilakukan oleh para intelektual,dan peneliti. Rancangan penelitian ini secara ilmiah, merupakan rangkaian dari penelitian penelitian terdahulu yang sempat dipelajari dan dikaji sesuai dengan amatan dan kemampuan peneliti dalam mengakses pelbagai macam penelitian tentang politik Kiai.,tentunya yang agak relevan dengan fokus masalah penelitian. Diantara kajian yang berhasil diamati oleh peneliti adalah: pertama, “Islam profetik: substansiasi nilai nilai agama dalam ruang publik” karya Masdar Hilmy. Dalam buku ini, di bagian dua dan tiga, masdar hilmy memotret realitas politik Kiai dan kaum santri. Pada bagian dua, masdar hilmy melihat bahwa ada kehawatiran besar dibalik turun gunungnya Kiai kepentas percaturan politik, yang olehnya disebut arena lingkaran kekuasaan yang hegemonic.
Kehawatirannya adalah Kiai tidak mampu mengendalikan dan menggunakan “
kuasa moral” dirinya,dalam memasuki pertarungan tersebut, disebabakan kuatnya kuasa a moral realitas politik kita. Dalam konteks Pemilu, Kiai hanya dijadikan sebagai alat untuk mendulang suara,demi kepentingan para penguasa yang mencoba merangkul para Kiai sebagai patnernya. Realitas inilah yang olehnya disebut sebagai mistifikasi politik yang cenderung melemahkan “kuasa moral” Kiai. Berpijak pada logika inilah, muncul pernyataan dari masdar hilmy bahwa,siapapun,sesaleh apapun yang masuk kedunia politik, bersiaplah untuk korup. Artinya realitas politik kita yang cenderung korup mengalahkan kuasa moral siapapun. Di bagian tiga, masdar hilmy melanjutkan tulisannya tentang teologi politik kaum santri (Kiai),yang berawal dari kegelisahannya terhadap kegagalan politik kaum santri yang diakibatkan adanya rumusan teologi politik yang terjebak dalam doktrin Aswaja yang bersifat normative moralis. Melihat problem inilah masdar hilmy menawarkan reformulasi paradigma politik dengan teologi politik pragtis pragmatis.

Kedua, artikel yang berjudul “
Politik Kiai Vis A Vis Kiai Politik” karya Firman H.Abu, tulisan ini membicarakan realitas politik yang diperankan oleh kaum santri atau Kiai, yang menurutnya telah terjadi sebuah penyimpangan nilai nilai politik yang berlandaskan agama, kedalam prilaku politik Kiai. Dalam konteks ini, Firman membedakan antara politik Kiai dan Kiai politik. Menurutnya politik Kiai adalah politik Islam atau politik yang mengandung nilai nilai Islam, yang dibawa dan dipraktikkan oleh para Kiai atau ulama sebagai pewaris para nabi. Sedangkan Kiai politik adalah subjek yang terlibat langsung dengan persolan politik praktis. Persoalan yang menjadi kajian dalam tulisan tersebut adalah apakah Kiai politik telah melaksanakan politik Kiai sebagai metode siyasah? Menurutnya dari hasil analisisnya, bahwa saat ini mayoritas Kiai politik masih belum menggunakan politik Kiai, melainkan masih terjebak dan terpenjara oleh realitas politik yang cenderung keluar dari nilai agama. Ketiga, artikel yang berjudul, “Problem Nalar Islam Politik Di Indonesia” ,Karya M Syifa Amin widigdo, tulisan ini menggunakan pendekatan histories dalam memotret nalar Islam politik yang terjadi di Indonesia. Focus masalah yang dibidiknya pada problem epistemologis yang membentuk cara bernalar Islam politik yang melibatkan kondisi histories, doktrin keagaman,dan afinitas ideologis sebagai pemicu lahirnya prilaku politik. menurutnya, Islam politik di Indonesia belum pernah mencapai puncak kejayaan, bahkan selalu kehilangan kesempatan dalam perebutan kekuasaan. Fenomena ini menurutnya disebabkan, oleh adanya konflik internal para pelaku Islam politik, sehingga saat ini setiap pemilu umat Islam apatis terhadap Islam politik.

Dari ketiga kajian terdahulu tentang politik Kiai, peneliti menemukan sesuatu dimensi yang belum terkatakan atau dimensi kajian yang belum tersentuh oleh peneliti terdahulu, diantaranya adalah: pertama, dimensi nalar politik Aswaja sebagai penggugah atau motor penggerak nalar politik Kiai. Kedua, keterlibatan Kiai sebagai agen politik,bukan lagi sebagai konsumen politik. ketiga, kerangka teori dan pendekatan yang digunakan bercorak baru,yaitu dengan menggunakan sosiologi pengetahuan
Karl Manheim,dan teori Agen, Antony Giddens. Ketiga dimensi, inilah yang mencerminkan unsur kebaruan dari penelitian ini.

G) Kerangka Teori

Kerangka teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah ilmu social, dengan dua pendekatan: pertama, sosiologi pengetahuan versi
Karl Manheim, yang menekankan pada bagaimana pengetahuan itu membentuk karakter tindakan manusia. Artinya, tindakan manusia di tentukan oleh latar pengetahuan yang dimilikinya. Dengan kata lain pengetahuan memiliki hubungan dengan eksistensinya. Menurutnya, sosiologi pengetahuan mengambil dua bentuk: 1), sebagai suatu penyelidikan empiris murni lewat pemaparan dan analisis structural tentang cara hubungan social dengan realitas yang mempeangaruhi pemikiran. 2) penelitian empiris tersebut di ramu menjadi sebuah penelitian epistemologis yang memusatkan pada keterlibatan hubungan dan pemikiran atas masalah kesahihan. dalam konteks penelitian ini, sosiologi pengetahuan di gunakan untuk mengungkap kaitan nalar politik Aswaja dengan hasrat nalar politik Kiai tapal kuda, yang akan diawali dengan mengkaji epistemologi Aswaja.
Kajian ini bertujuan untuk mengetahuai makna Aswaja sebagai kerangka berpikir dalam melakukan perubahan social, pemberdayaan masyarakat penataan bangsa dan negara. Dikatakan demikian karena saat ini banyak pendapat yang mengatakan bahwa Aswaja hanya berurusan dengan persoalan teologi dan fiqih, tidak bersentuhan dengan persoalan kebangsaan,dan kenegaraan. Aswaja juga diasumsikan sebagai kerangka berpikir yang hanya membuat kaum santri (Kiai),
dan kaum Nahdliyyin bersikap altruistic (suka mengalah), sehingga menjadi lemah dalam pertarungan politik kebangsaan. Dalam pandangan yang berbeda Aswaja di pahami sebagai kerangka berpikir yang kerap kali bersentuhan dengan persoalan politik, perebutan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat pada misi politik yang dibawa Muhammad SAW, “bahwa saya dan umatku akan bisa menaklukkan imperium Persia dan romawi.” Pelbagai asumsi tentang Aswaja inilah yang nantinya akan dilakukan kajian secara radikal kritis, dan di dialektikan dengan pengetahuan Aswaja yang di akses oleh Kiai “tapal kuda”.
Kedua, pendekatan agen versi Anthony Giddens yang menekankan pada tindakan manusia sebagai sebuah agen (pelaku). Menurutnya seorang agen berbeda dengan seorang konsumen. Agen dalam sebuah tindakannya memiliki langkah langkah sistematis yaitu a)motivasi tindakan, b) rasionalisasi tindakan,dan c) monitoring refleksi tindakan. Dalam konteks penelitian ini, teori agen di gunakan untuk melihat hasrat Kiai di kawasan tapal kuda dalam membangun nalar politik. apakah militansi dan integritas Kiai dalam panggung politik, sudah mencerminkan tindakan sebagai seorang agen politik yang bertujuan ataukah hanya sebagai konsumen yang lahir dari gerakan kebencian terhadap ideologi politik sebelumnya.

H) Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, untuk memperoleh data data kualitatif yang berupa konsep,teori,dan tindakan, yang dalam konteks ini berupa data data yang menunjukkan nalar politik Aswaja dan nalar politik Kiai di kawasan tapal kuda yang berpijak pada Aswaja. Metode berpikir yang digunakan bersifat dialektis yaitu dengan diawali mendeskripsikan data, menganalisis data dan di uji dengan sebuah teori atu pendekatan, kemudian diakhiri dengan sebuah tawaran metodologis atau teoritis dari hasil analisis oleh peneliti.
Untuk memperoleh data tersebut, peneliti menggunakan metode intervieuw (wawancara), dan diskusi dengan sumber penelitian,yaitu para Kiai yang menjadi bidikan,dan diskusi secara literal dengna data data teoritis yang berkenaan dengan Aswaja, nalar politik Kiai dan sesuatu yang relevan dengan penelitian sebagai pendukung penelitian.

I) Referensi

Amin, Ma’ruf
.2007.Kenapa Harus PKNU: 20 Hujjah Pendirian Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Jakarta Pusat:DPP. PKNU.
Amin Widigdo M.Syifa, problem nalar Islam politik,http://rapidshare.com/files/160248727/presented_nalar_politik.doc.html
Aqiel Siradj, Said. 2000. Latar Kultural Dan Politik Kelahiran Aswaja, Dalam Kontroversi Aswaja: Aula Perdebatan Dan Re Interpretasi, editor,Yogyakarta: Lkis.
Giddens, Anthony. 2003the constitutions of society: Teori Strukturasi Untuk Analisis Social, Pasuruan: Pedati.
.H.Abu,Firman. Politik Kiai Vis A Vis Kiai Politik, dalam http://warteg.or.id/v4
Mannheim, Karl. 1991. Ideology Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik, Yogyakarta:Kanisius.
Sutarto, Ayu. dalam makalah jelajah budaya yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional ,Sekilas Tentang Masyarakat Pandalungan, Yogyakarta. 2006

Thompson, John B. 2003.Analisis Ideologi: Kritik Wacana Ideologi Ideologi Dunia, Yogyakarta: IRCISOD.